Setelah bangun pagi tadi, aku dapat panggilan dari
seseorang –private number. Awalnya
aku tidak ingin menjawabnya, tapi pagi itu adalah minggu pagi jadi aku tidak
mesti terburu-buru. Dia seorang perempuan yang nada suaranya menggoda. Aku
ingin sekali mengakhiri panggilan sejak dia bicara pertama kali tapi aku begitu
terpesona sehingga aku tidak memutusnya. Dia mengawali dengan ucapan ‘selamat
pagi’ yang begitu manis dan lembut. Kau tidak akan pernah melupakannya jika
pernah mendengar barang sekali saja.
Lalu dia mulai bercerita tentang harinya
belakangan ini. Aneh memang, berjam-jam mendengarkan seseorang bercerita tentang
kehidupannya yang bahkan kau tidak mengenalnya. Tapi aku hampir tidak
menganggap itu hal aneh saat mendengar suaranya. Itu begitu lembut dan
terkadang begitu renyah –mendengarkannya bicara seolah ada bersamanya saat itu
juga, dengan wujud yang ku khayal-khayal saja.
Hampir sore waktu dia memutuskan panggilan begitu
saja di tengah-tengah ceritanya dan aku begitu kecewa. Aku makan seperti orang
kelaparan pada malamnya itu juga tepatnya selepas mandi. Setelah makan aku tidak
habis-habisnya mengatakan aneh pada diriku sendiri. Namun setelah itu aku harus
merapikan seluruh ruangan apartemen yang seharusnya kulakukan tadi pagi. Aku
baru selesai dengan semua kegiatan saat larut malam. Tertidur dan paginya mesti
kesiangan lalu di marahi bos saat di kantor.
Aku bersumpah jika
mendapat panggilan dari orang itu lagi, aku bakal memakinya.
Minggu kedua itu masih begitu subuh saat ponselku
berdering. Aku mendengar suara itu lagi dan kedua kalinya aku terpukau. Aku
rebahan di atas kasur sepanjang pagi itu. Hingga siang, sore, malam dan tepat
jam delapan malam panggilannya tiba-tiba terputus. Aku merasa kecewa suara itu
hilang dari telinga ku. Dia telah bercerita banyak tentang kehidupannya yang
sungguh menarik untuk di dengar. Lalu suaranya, terkadang serak dan agak
mendesah namun terkadang begitu lembut seperti anak remaja.
Aku kelaparan malam itu, menghabiskan cukup banyak
persediaan indomie ku. Tidak mandi dan tidak sempat merapikan apartemenku. Aku
kesiangan dan telat datang ke kantor. Bos memberiku surat peringatan pertama.
Siang itu aku begitu lelah dan tertidur di kantor, memimpikan begitu
sempurnanya perempuan yang setiap minggu menelponku.
Sore saat pulang aku hampir tertabrak karena
mengkhayalkannya.
Minggu berikutnya tepat jam dua belas lewat satu
menit dini hari, dia menghubungiku. Rasanya begitu lega dan mengangkasa karena
semalaman aku menunggunya. Waktu berlalu begitu cepat saat berbicara dengannya,
mendengar ceritanya, menikmati suaranya...
Tiba-tiba hari sudah malam pukul dua belas dan
pembicaraan langsung terputus seperti biasa. Aku tidak sempat makan dan
lagi-lagi kesiangan. Aku tertidur di kantor sampai akhirnya bos menggebrak
mejaku dan memberiku surat peringatan kedua. Aku begitu marah dan langsung
memukulnya. Beruntung bos tidak melaporkanku ke kantor polisi, dia hanya
memecatku.
Sepanjang hari-hari itu hanya kuhabiskan untuk
menunggu panggilannya. Tapi ponselku tidak kunjung berdering karena ia hanya
menelpon di hari minggu saja. Ini masih rabu dan rasanya begitu lama menuju ke
hari minggu.
Beberapa hari ini aku jarang makan, karena siapa
juga yang butuh makan kalau aku bisa mendapat nikmat yang lebih indah seperti
suaranya. Aku juga jarang tidur dan mandi, kamar apartemenku begitu kotor dan
berantakan –aku tidak perduli lagi. Aku hanya minum ketika tenggorokku begitu
kering. Pakaianku begitu lusuh sebab tidak pernah kuganti semenjak aku pulang
kerja sewaktu di pecat. Setelah hari itu yang kupikirkan hanya dia,
panggilannya, suaranya... ponselku tidak pernah lepas dariku.
Ini sudah sabtu dan ragaku begitu lemas, namun aku
masih bisa memegang ponselku. Aku tidak pernah mengecasnya atau melepasnya saat
mandi dan buang air. Aku ingin selalu bersamanya agar sewaktu-waktu dia
memanggil aku bisa langsung mengangkatnya.
Jam dinding berdetak dan hampir menunjukan pukul
dua belas malam, sebentar lagi minggu, sebentar lagi...
Tapi pandanganku menggelap dan ragaku tidak
sanggup lagi bergerak, namun suara itu datang lagi dan rasanya ada diluar pintu
apartemenku. Pintu terbuka dan ia mulai bercerita sambil melangkah... tapi aku
terlalu lelah untuk mendengarnya, pandanganku gelap gulita dan aku butuh
tidur... tidur yang sungguh panjang.


