Sabtu, 19 November 2016

Panggilannya


Setelah bangun pagi tadi, aku dapat panggilan dari seseorang –private number. Awalnya aku tidak ingin menjawabnya, tapi pagi itu adalah minggu pagi jadi aku tidak mesti terburu-buru. Dia seorang perempuan yang nada suaranya menggoda. Aku ingin sekali mengakhiri panggilan sejak dia bicara pertama kali tapi aku begitu terpesona sehingga aku tidak memutusnya. Dia mengawali dengan ucapan ‘selamat pagi’ yang begitu manis dan lembut. Kau tidak akan pernah melupakannya jika pernah mendengar barang sekali saja.





Lalu dia mulai bercerita tentang harinya belakangan ini. Aneh memang, berjam-jam mendengarkan seseorang bercerita tentang kehidupannya yang bahkan kau tidak mengenalnya. Tapi aku hampir tidak menganggap itu hal aneh saat mendengar suaranya. Itu begitu lembut dan terkadang begitu renyah –mendengarkannya bicara seolah ada bersamanya saat itu juga, dengan wujud yang ku khayal-khayal saja.



Hampir sore waktu dia memutuskan panggilan begitu saja di tengah-tengah ceritanya dan aku begitu kecewa. Aku makan seperti orang kelaparan pada malamnya itu juga tepatnya selepas mandi. Setelah makan aku tidak habis-habisnya mengatakan aneh pada diriku sendiri. Namun setelah itu aku harus merapikan seluruh ruangan apartemen yang seharusnya kulakukan tadi pagi. Aku baru selesai dengan semua kegiatan saat larut malam. Tertidur dan paginya mesti kesiangan lalu di marahi bos saat di kantor.



Aku bersumpah jika  mendapat panggilan dari orang itu lagi, aku bakal memakinya.



Minggu kedua itu masih begitu subuh saat ponselku berdering. Aku mendengar suara itu lagi dan kedua kalinya aku terpukau. Aku rebahan di atas kasur sepanjang pagi itu. Hingga siang, sore, malam dan tepat jam delapan malam panggilannya tiba-tiba terputus. Aku merasa kecewa suara itu hilang dari telinga ku. Dia telah bercerita banyak tentang kehidupannya yang sungguh menarik untuk di dengar. Lalu suaranya, terkadang serak dan agak mendesah namun terkadang begitu lembut seperti anak remaja.



Aku kelaparan malam itu, menghabiskan cukup banyak persediaan indomie ku. Tidak mandi dan tidak sempat merapikan apartemenku. Aku kesiangan dan telat datang ke kantor. Bos memberiku surat peringatan pertama. Siang itu aku begitu lelah dan tertidur di kantor, memimpikan begitu sempurnanya perempuan yang setiap minggu menelponku.



Sore saat pulang aku hampir tertabrak karena mengkhayalkannya.



Minggu berikutnya tepat jam dua belas lewat satu menit dini hari, dia menghubungiku. Rasanya begitu lega dan mengangkasa karena semalaman aku menunggunya. Waktu berlalu begitu cepat saat berbicara dengannya, mendengar ceritanya, menikmati suaranya...



Tiba-tiba hari sudah malam pukul dua belas dan pembicaraan langsung terputus seperti biasa. Aku tidak sempat makan dan lagi-lagi kesiangan. Aku tertidur di kantor sampai akhirnya bos menggebrak mejaku dan memberiku surat peringatan kedua. Aku begitu marah dan langsung memukulnya. Beruntung bos tidak melaporkanku ke kantor polisi, dia hanya memecatku.



Sepanjang hari-hari itu hanya kuhabiskan untuk menunggu panggilannya. Tapi ponselku tidak kunjung berdering karena ia hanya menelpon di hari minggu saja. Ini masih rabu dan rasanya begitu lama menuju ke hari minggu.



Beberapa hari ini aku jarang makan, karena siapa juga yang butuh makan kalau aku bisa mendapat nikmat yang lebih indah seperti suaranya. Aku juga jarang tidur dan mandi, kamar apartemenku begitu kotor dan berantakan –aku tidak perduli lagi. Aku hanya minum ketika tenggorokku begitu kering. Pakaianku begitu lusuh sebab tidak pernah kuganti semenjak aku pulang kerja sewaktu di pecat. Setelah hari itu yang kupikirkan hanya dia, panggilannya, suaranya... ponselku tidak pernah lepas dariku.



Ini sudah sabtu dan ragaku begitu lemas, namun aku masih bisa memegang ponselku. Aku tidak pernah mengecasnya atau melepasnya saat mandi dan buang air. Aku ingin selalu bersamanya agar sewaktu-waktu dia memanggil aku bisa langsung mengangkatnya.



Jam dinding berdetak dan hampir menunjukan pukul dua belas malam, sebentar lagi minggu, sebentar lagi...



Tapi pandanganku menggelap dan ragaku tidak sanggup lagi bergerak, namun suara itu datang lagi dan rasanya ada diluar pintu apartemenku. Pintu terbuka dan ia mulai bercerita sambil melangkah... tapi aku terlalu lelah untuk mendengarnya, pandanganku gelap gulita dan aku butuh tidur... tidur yang sungguh panjang.

Bayangan di tembok


Jambanku berada di luar rumah, itu adalah sebuah ruangan beratap sendiri tidak bergabung dengan atap rumah. Jika sudah hampir tengah malam dan perutku begitu mulas, aku sering minta di antar kakakku untuk pergi ke jamban. Kalau sudah begitu dia bakal mengoceh tak habis-habis karena pagi nanti dia mesti bekerja, tapi lebih baik begitu daripada dia menolak mengantarku.


Jamban itu begitu remang walaupun ayah sudah mendirikan banyak tiang kayu yang di gantungi lampu-lampu pijar. Tetap saja kelihatanya remang, karena kami tinggal di desa yang kiri-kanan masih banyak kebun kosong. Di dalam jamban tidak begitu terang karena hanya ada sebuah bohlam menggantung di atas.




Ada sebuah bayangan di tembok atas kananku, sangat tinggi dan tidak terjangkau tangan. Bayangan itu berasal dari ventilasi jambanku, karena lampu menyinarinya dari luar. Bentuknya begitu aneh, persis seperti bentuk manusia sedang berdiri tegap. Belakangan aku penasaran dan memeriksa ventilasi itu di siang hari, tapi rasanya bentuknya tidak begitu –tidak seperti yang tertera di tembok.


Ketika buang air di malam hari pandanganku selalu saja terpaku pada bayangan orang itu. Sesekali aku merinding dan kalau sudah begitu rasa mulasku tiba-tiba hilang. Aku beruntung kakak selalu menemaniku jadi aku tidak begitu takut. Dia sering menungguku sampai tertidur bersandar di dinding luar jamban.


Malam ini aku kembali mulas, entah apa yang aku makan barusan tapi rasanya perut ini begitu bergolak. Sialnya, kakak tadi pagi pamit pada ibu dan ayah untuk melakukan perjalanan ke luar kota, tugas kantor katanya. Aku bolak-balik untuk memutuskan pergi ke jamban atau tidak. Bahkan sempat terpikir hal gila untuk buang air di sini saja.


Karena perutku kembali bergeriuk, aku bergegas keluar rumah. Aku tidak berani kalau harus membangunkan ibu dan ayah. Mereka mungkin bakal benar-benar memarahiku dan tidak bakal mengantarku juga. Jadi aku berlari dan menghempas pintu jamban seperti orang kesetanan. Lalu segera menuntaskannya. Aku selalu tidak bisa lepas memandang bayangan orang itu lagi.


Bayangan itu begitu jelas, benar-benar seperti seseorang yang sedang berdiri tegap atau seseorang yang sedang berbaring dengan kedua tangan nya di samping masing-masing. Aku kembali merinding dan berusaha memalingkan perhatian dengan bersiul. Tapi angin dingin bertiup di pundakku. Aku langsung mengguyur lubang wc dan ingin menyelesaikan nya. “Kenapa begitu terburu-buru dik, kakak kan disini” dari bayangan tadi tepat di bagian kepala keluar wajah kakak perlahan-lahan, wajah kakak yang sudah hancur di beberapa bagian.


Aku tidak sempat menaikan celana, berlari keluar jamban dan di samping situ tubuh kakak terkulai tanpa kepala di dinding. Aku berteriak sekencang-kencangnya.


...


Kakak mengalami kecelakaan di jalan tol, semua orang di mobil nya meninggal dan kondisi kakak paling parah, kepalanya terputus. Aku mungkin tidak harus takut lagi sekarang. Kejadian itu selalu terjadi tiap kali aku ke jamban di malam hari. Wajah kakak akan keluar dari tembok dan mulai berbicara denganku.

 
biz.