Sabtu, 19 November 2016

Bayangan di tembok


Jambanku berada di luar rumah, itu adalah sebuah ruangan beratap sendiri tidak bergabung dengan atap rumah. Jika sudah hampir tengah malam dan perutku begitu mulas, aku sering minta di antar kakakku untuk pergi ke jamban. Kalau sudah begitu dia bakal mengoceh tak habis-habis karena pagi nanti dia mesti bekerja, tapi lebih baik begitu daripada dia menolak mengantarku.


Jamban itu begitu remang walaupun ayah sudah mendirikan banyak tiang kayu yang di gantungi lampu-lampu pijar. Tetap saja kelihatanya remang, karena kami tinggal di desa yang kiri-kanan masih banyak kebun kosong. Di dalam jamban tidak begitu terang karena hanya ada sebuah bohlam menggantung di atas.




Ada sebuah bayangan di tembok atas kananku, sangat tinggi dan tidak terjangkau tangan. Bayangan itu berasal dari ventilasi jambanku, karena lampu menyinarinya dari luar. Bentuknya begitu aneh, persis seperti bentuk manusia sedang berdiri tegap. Belakangan aku penasaran dan memeriksa ventilasi itu di siang hari, tapi rasanya bentuknya tidak begitu –tidak seperti yang tertera di tembok.


Ketika buang air di malam hari pandanganku selalu saja terpaku pada bayangan orang itu. Sesekali aku merinding dan kalau sudah begitu rasa mulasku tiba-tiba hilang. Aku beruntung kakak selalu menemaniku jadi aku tidak begitu takut. Dia sering menungguku sampai tertidur bersandar di dinding luar jamban.


Malam ini aku kembali mulas, entah apa yang aku makan barusan tapi rasanya perut ini begitu bergolak. Sialnya, kakak tadi pagi pamit pada ibu dan ayah untuk melakukan perjalanan ke luar kota, tugas kantor katanya. Aku bolak-balik untuk memutuskan pergi ke jamban atau tidak. Bahkan sempat terpikir hal gila untuk buang air di sini saja.


Karena perutku kembali bergeriuk, aku bergegas keluar rumah. Aku tidak berani kalau harus membangunkan ibu dan ayah. Mereka mungkin bakal benar-benar memarahiku dan tidak bakal mengantarku juga. Jadi aku berlari dan menghempas pintu jamban seperti orang kesetanan. Lalu segera menuntaskannya. Aku selalu tidak bisa lepas memandang bayangan orang itu lagi.


Bayangan itu begitu jelas, benar-benar seperti seseorang yang sedang berdiri tegap atau seseorang yang sedang berbaring dengan kedua tangan nya di samping masing-masing. Aku kembali merinding dan berusaha memalingkan perhatian dengan bersiul. Tapi angin dingin bertiup di pundakku. Aku langsung mengguyur lubang wc dan ingin menyelesaikan nya. “Kenapa begitu terburu-buru dik, kakak kan disini” dari bayangan tadi tepat di bagian kepala keluar wajah kakak perlahan-lahan, wajah kakak yang sudah hancur di beberapa bagian.


Aku tidak sempat menaikan celana, berlari keluar jamban dan di samping situ tubuh kakak terkulai tanpa kepala di dinding. Aku berteriak sekencang-kencangnya.


...


Kakak mengalami kecelakaan di jalan tol, semua orang di mobil nya meninggal dan kondisi kakak paling parah, kepalanya terputus. Aku mungkin tidak harus takut lagi sekarang. Kejadian itu selalu terjadi tiap kali aku ke jamban di malam hari. Wajah kakak akan keluar dari tembok dan mulai berbicara denganku.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.