Jambanku berada di luar
rumah, itu adalah sebuah ruangan beratap sendiri tidak bergabung dengan atap
rumah. Jika sudah hampir tengah malam dan perutku begitu mulas, aku sering
minta di antar kakakku untuk pergi ke jamban. Kalau sudah begitu dia bakal mengoceh
tak habis-habis karena pagi nanti dia mesti bekerja, tapi lebih baik begitu
daripada dia menolak mengantarku.
Jamban itu begitu remang
walaupun ayah sudah mendirikan banyak tiang kayu yang di gantungi lampu-lampu
pijar. Tetap saja kelihatanya remang, karena kami tinggal di desa yang
kiri-kanan masih banyak kebun kosong. Di dalam jamban tidak begitu terang
karena hanya ada sebuah bohlam menggantung di atas.
Ada sebuah bayangan di
tembok atas kananku, sangat tinggi dan tidak terjangkau tangan. Bayangan itu
berasal dari ventilasi jambanku, karena lampu menyinarinya dari luar. Bentuknya
begitu aneh, persis seperti bentuk manusia sedang berdiri tegap. Belakangan aku
penasaran dan memeriksa ventilasi itu di siang hari, tapi rasanya bentuknya
tidak begitu –tidak seperti yang tertera di tembok.
Ketika buang air di malam
hari pandanganku selalu saja terpaku pada bayangan orang itu. Sesekali aku
merinding dan kalau sudah begitu rasa mulasku tiba-tiba hilang. Aku beruntung
kakak selalu menemaniku jadi aku tidak begitu takut. Dia sering menungguku
sampai tertidur bersandar di dinding luar jamban.
Malam ini aku kembali
mulas, entah apa yang aku makan barusan tapi rasanya perut ini begitu bergolak.
Sialnya, kakak tadi pagi pamit pada ibu dan ayah untuk melakukan perjalanan ke
luar kota, tugas kantor katanya. Aku bolak-balik untuk memutuskan pergi ke
jamban atau tidak. Bahkan sempat terpikir hal gila untuk buang air di sini
saja.
Karena perutku kembali
bergeriuk, aku bergegas keluar rumah. Aku tidak berani kalau harus membangunkan
ibu dan ayah. Mereka mungkin bakal benar-benar memarahiku dan tidak bakal
mengantarku juga. Jadi aku berlari dan menghempas pintu jamban seperti orang
kesetanan. Lalu segera menuntaskannya. Aku selalu tidak bisa lepas memandang
bayangan orang itu lagi.
Bayangan itu begitu
jelas, benar-benar seperti seseorang yang sedang berdiri tegap atau seseorang
yang sedang berbaring dengan kedua tangan nya di samping masing-masing. Aku
kembali merinding dan berusaha memalingkan perhatian dengan bersiul. Tapi angin
dingin bertiup di pundakku. Aku langsung mengguyur lubang wc dan ingin
menyelesaikan nya. “Kenapa begitu terburu-buru dik, kakak kan disini” dari
bayangan tadi tepat di bagian kepala keluar wajah kakak perlahan-lahan, wajah
kakak yang sudah hancur di beberapa bagian.
Aku tidak sempat menaikan
celana, berlari keluar jamban dan di samping situ tubuh kakak terkulai tanpa
kepala di dinding. Aku berteriak sekencang-kencangnya.
...
Kakak mengalami
kecelakaan di jalan tol, semua orang di mobil nya meninggal dan kondisi kakak
paling parah, kepalanya terputus. Aku mungkin tidak harus takut lagi sekarang.
Kejadian itu selalu terjadi tiap kali aku ke jamban di malam hari. Wajah kakak
akan keluar dari tembok dan mulai berbicara denganku.


0 komentar:
Posting Komentar