Aku pernah ingat ada seseorang yang mengaku tuhan. Dia
salah satu teman di tempat kerjaku. Dia bilang jika tuhan punya banyak
kemampuan diluar akal sehat manusia. Bagaimana jika manusia punya salah satu
dari kekuatan itu. “Berarti dia juga ‘TUHAN’ kan?” dia mencondongkan tubuhnya
padaku. Aku dan teman-teman lainnya hanya bisa mengangguk. Kurasa temanku ini
sungguh fanatik dan gila. Saat itu jam istirahat kerja dan awalnya kami hanya
membicarakan hal-hal ringan saja sampai orang itu datang ‘Alfred’, dia mengaku
jika dirinya punya kekuatan tuhan. Tadinya aku hanya mengganggap itu lelucon
tetapi dia meyakinkan kami.
Dia bertanya pada kami satu persatu tentang apa yang
sedang kami pikirkan. Alfred menunjuk Emma. “Kau” alfred mengangguk-angguk
tersenyum “Ibu yang baik, emma sedang mengkhawatirkan anak-anaknya. Apakah Nora
sudah pulang, apa Iqbal baik-baik saja di sekolah –kau benar-benar
mengkhawatirkan mereka. Nice job Mother!!”. Emma hanya tersipu dan memalingkan
wajah sejenak. Bisa saja itu hanya rekayasanya atau Cuma tebakan yang
beruntung. Kami semua tahu kalau emma adalah ibu yang baik.
Alfred kemudian menunjuk Anto, ia mengerutkan dahi.
Alfred menggeleng “apa perlu kubeberkan apa yang sedang kau pikirkan anto?”.
“Memangnya apa yang kupikirkan?” anto menopang dagunya
dan tersenyum “ayo katakan!”.
“Oke.. Kau
sedang mencari cara bagaimana mengajak salah satu dari..”
“Cukup-cukup!! Aku mengerti, jangan dilanjutkan lagi.
Damn!!” anto menyela. “Kenapa kau tidak tebak yang lain saja!” dia merasa
gusar. Aku masih tidak percaya, walau beberapa temanku sudah merasa kagum dan
mulai mengagung-agungkannya. Tapi tepat saat itu, mata alfred tertuju padaku.
“Alex.. alex.. alex.. Aku begitu penasaran denganmu”
dia menunjukku. Aku mencoba memikirkan hal secara acak, berganti tiap detiknya.
Ironinya aku tidak percaya kemampuan alfred tapi aku malah berusaha untuk
menghindari dia membaca pikiranku. “Kau mencoba dengan sangat keras alex” ia
mengedipkan mata kirinya. “Jika memang kau tidak percaya, mengapa kau
bersikeras untuk mengubah-ubah yang kau pikirkan?. Ayolah be a gentle man,
pikirkan satu hal agar aku bisa membaca mu” dia bersedekap.
Hari minggu
kemarin aku sengaja datang ke rumah mu saat kau tidak di sana. Hanya ada bayi
mungilmu ‘Tamara’ di kereta bayi dan lalu istri cantikmu yang dandanannya mirip
pelacur. Awalnya aku hanya menggodanya, tapi kami berdua saling tertarik dan
aku menyumbuinya saat itu juga. Kami saling cinta, kuakui.
“Hahaha... saling mencintai” dia terbahak. Aku
tersentak, apakah dia akan memukulku?.
“Tidak alex, tidak, aku tidak bakal memukulmu”. Aku menghela nafas sesungguhnya
kakiku sungguh gemetar. Ini benar-benar nyata, alfred memang bisa membaca
pikiranku.
“Sesungguhnya kau belum pernah melihat istriku sama
sekali” alfred mengeluarkan handphone nya dan menunjukan sebuah foto. Di sana
ada sekumpulan ibu dan tamara berada di gendongan salah seorang wanita “itu
istriku”. Dia bukan perempuan yang
bercinta denganku, tapi... “dan itu” dia menunjuk wanita lain “adalah
saudarinya.
“Dia didiagnosa terkena HIV sejak beberapa bulan lalu.
Dia begitu depresi dan membutuhkan cinta. Jadi ketika aku membaca pikiranmu
sabtu kemarin, aku langsung mengundang nya untuk ke rumah dan menjaga anakku,
tamara. Aku menyuruhnya berpakaian mencolok karena kubilang padanya ‘kolegaku
akan datang dan siapa tahu itu cocok denganmu’ –sementara aku dan istriku
bersenang-senang di luar rumah. Jadi, apa kau masih tidak percaya dengan
kekuatan tuhan?.”


0 komentar:
Posting Komentar