Selasa, 13 November 2018

Mengaku Tuhan




Aku pernah ingat ada seseorang yang mengaku tuhan. Dia salah satu teman di tempat kerjaku. Dia bilang jika tuhan punya banyak kemampuan diluar akal sehat manusia. Bagaimana jika manusia punya salah satu dari kekuatan itu. “Berarti dia juga ‘TUHAN’ kan?” dia mencondongkan tubuhnya padaku. Aku dan teman-teman lainnya hanya bisa mengangguk. Kurasa temanku ini sungguh fanatik dan gila. Saat itu jam istirahat kerja dan awalnya kami hanya membicarakan hal-hal ringan saja sampai orang itu datang ‘Alfred’, dia mengaku jika dirinya punya kekuatan tuhan. Tadinya aku hanya mengganggap itu lelucon tetapi dia meyakinkan kami.

Dia bertanya pada kami satu persatu tentang apa yang sedang kami pikirkan. Alfred menunjuk Emma. “Kau” alfred mengangguk-angguk tersenyum “Ibu yang baik, emma sedang mengkhawatirkan anak-anaknya. Apakah Nora sudah pulang, apa Iqbal baik-baik saja di sekolah –kau benar-benar mengkhawatirkan mereka. Nice job Mother!!”. Emma hanya tersipu dan memalingkan wajah sejenak. Bisa saja itu hanya rekayasanya atau Cuma tebakan yang beruntung. Kami semua tahu kalau emma adalah ibu yang baik.

Alfred kemudian menunjuk Anto, ia mengerutkan dahi. Alfred menggeleng “apa perlu kubeberkan apa yang sedang kau pikirkan anto?”.

“Memangnya apa yang kupikirkan?” anto menopang dagunya dan tersenyum “ayo katakan!”.

“Oke..  Kau sedang mencari cara bagaimana mengajak salah satu dari..”

“Cukup-cukup!! Aku mengerti, jangan dilanjutkan lagi. Damn!!” anto menyela. “Kenapa kau tidak tebak yang lain saja!” dia merasa gusar. Aku masih tidak percaya, walau beberapa temanku sudah merasa kagum dan mulai mengagung-agungkannya. Tapi tepat saat itu, mata alfred tertuju padaku.

“Alex.. alex.. alex.. Aku begitu penasaran denganmu” dia menunjukku. Aku mencoba memikirkan hal secara acak, berganti tiap detiknya. Ironinya aku tidak percaya kemampuan alfred tapi aku malah berusaha untuk menghindari dia membaca pikiranku. “Kau mencoba dengan sangat keras alex” ia mengedipkan mata kirinya. “Jika memang kau tidak percaya, mengapa kau bersikeras untuk mengubah-ubah yang kau pikirkan?. Ayolah be a gentle man, pikirkan satu hal agar aku bisa membaca mu” dia bersedekap.


Hari minggu kemarin aku sengaja datang ke rumah mu saat kau tidak di sana. Hanya ada bayi mungilmu ‘Tamara’ di kereta bayi dan lalu istri cantikmu yang dandanannya mirip pelacur. Awalnya aku hanya menggodanya, tapi kami berdua saling tertarik dan aku menyumbuinya saat itu juga. Kami saling cinta, kuakui.


“Hahaha... saling mencintai” dia terbahak. Aku tersentak, apakah dia akan memukulku?. “Tidak alex, tidak, aku tidak bakal memukulmu”. Aku menghela nafas sesungguhnya kakiku sungguh gemetar. Ini benar-benar nyata, alfred memang bisa membaca pikiranku.

“Sesungguhnya kau belum pernah melihat istriku sama sekali” alfred mengeluarkan handphone nya dan menunjukan sebuah foto. Di sana ada sekumpulan ibu dan tamara berada di gendongan salah seorang wanita “itu istriku”. Dia bukan perempuan yang bercinta denganku, tapi... “dan itu” dia menunjuk wanita lain “adalah saudarinya.

“Dia didiagnosa terkena HIV sejak beberapa bulan lalu. Dia begitu depresi dan membutuhkan cinta. Jadi ketika aku membaca pikiranmu sabtu kemarin, aku langsung mengundang nya untuk ke rumah dan menjaga anakku, tamara. Aku menyuruhnya berpakaian mencolok karena kubilang padanya ‘kolegaku akan datang dan siapa tahu itu cocok denganmu’ –sementara aku dan istriku bersenang-senang di luar rumah. Jadi, apa kau masih tidak percaya dengan kekuatan tuhan?.”

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.