Aku
tergopoh menyeberangi jalan yang begitu kosong
dan sepi, pagi itu. “Tuan thomas... Nyonya margie...” ada bercak darah
di
kerikil-kerikil jalan setapaknya. Aku mengikuti arah bercak darah itu
berasal,
di dekat pintu masuk darah bersimbah. Aku langsung memasuki rumah
mengikuti garis darah di lantai, seperti seseorang sudah di seret ke
suatu tempat -jadi aku penasaran mengikutinya.
Aku sudah melewati ruang tamu dan lorong
kamar-kamar, jejak itu habis tepat di depan sebuah pintu di ujung lorong. ‘Apapun
yang ada di balik pintu ini seharusnya aku tidak terlibat. Bagaimana jika
mereka berdua di bantai perampok yang ternyata masih berada dalam rumah ini.
Aku menoleh belakang dan tuan thomas di sana, memegang sebilah pisau yang
berlumuran darah. Aku melesat kekanan, ke jendela dan menubrukkan tubuhku
kesana. Aku mendarat berguling-guling di halaman tuan thomas, beruntung tidak
sedikitpun kaca menggoresku. Aku menyebrang sambil memasuki mobil, mengambil
ponselku dan menekan 1 1 0. Tanganku tidak bisa berhenti bergetar.
Entah sejak kapan, tuan thomas sudah di luar
mobil, memukul-mukul kaca. Polisi mengangkat teleponnya dan ku jelaskan
serinci-rincinya. Tuan thomas berhasil memecahkan kaca mobil, membuka pintu dan
meraih kerahku sementara polisi sudah memutus pembicaraan. Dia memukul kepalaku
dan seluruhnya gelap.
...
Ketika aku terbangun, dua orang polisi sudah
berada di hadapanku. Yang satu sedang mengetik sesuatu di komputer jinjingnya
dan yang satu lagi terlihat begitu ngantuk, karena dia beberapa kali
mengangguk-angguk. Aku berdeham dan si polisi yang angguk-angguk terkesiap. Dia
memandangku tajam “baik, anda sudah terbangun” dia mencolek temannya si
pengetik.
Si pengetik mendongak lalu mengulurkan tangan
“saya bayu dan teman saya ini danu” aku menyalami tangannya. “Benar, kami
sedang berbicara dengan tuan alan?”, aku mengangguk. “Oke, Danu, silahkan
lanjutkan” bayu menyiapkan jemarinya diatas keyboard.
“Tuan alan, di pagi tanggal 15 maret 2016 atau
lebih tepatnya kemarin pagi, kegiatan apa saja yang anda lakukan?” danu
memandangku. Aku jelaskan semua yang terjadi pagi itu, bagaimana aku kesiangan,
mandi lalu berpakaian, memanaskan mobil dan tidak sempat sarapan. Lalu melihat
bekas darah itu dan aku mengikutinya hingga kedalam rumah. “Tunggu, apa anda
masuk begitu saja kedalam rumah seseorang tanpa permisi?”.
“Sebenarnya aku sudah meneriaki nama tuan thom dan
nyonya margie tapi tak ada sahutan, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi,
oleh karena itu aku masuk dan menyelidiki” aku memperhatikan bahwa pandangan
danu benar-benar tidak lepas dariku, matanya begitu tajam seolah-olah akan
menusukku jika saja tidak menghindar. Dia menggeser duduknya sedikit, menopang
dagu sengan siku kanannya. Si pengetik menggelengkan kepalanya sambil mengetik
dan dia mendesah pelan.
“Apa lagi yang terjadi?”, aku langsung menyebutkan
jika ada sesuatu di balik pintu ujung lorong mereka, tempat sesuatu yang
meneteskan darah itu berada.
“Aku hendak membukanya namun seseorang berada di
belakangku dan aku tahu itu. Saat menoleh, pikiranku dengan cepat menyimpulkan
ini semua, tentang pertengkaran tuan thomas dan nyonya margie yang
terus-terusan setiap pagi berujung pada pembunuhan –tuan thomas di sana berdiri
menghadapiku dan dia memegang pisau yang bermandikan darah. Aku membanting
tubuh ke jendela berlari menuju mobil dan menelpon polisi. Belum selesai
bicara, tuan thom sudah berada disamping mobilku memukul-mukul kaca jendela.
Dia memecahkannya, membuka pintu dan meraih kerahku setelah itu hanya gelap.”
Danu menegakkan kembali posisi duduknya “Sayangnya
laporan tuan thomas bukanlah seperti itu. Dia berkata jika pagi itu kau
membobol masuk rumahnya secara paksa dan tuan thomas sedang perjalanan pulang
dari pasar.”
Aku mengernyit “lalu dimana nyonya margie?.”
“Dia sedang pergi keluar kota, ke tempat saudara
sepupunya.”
“Ini tidak masuk akal, setelah kejadian itu, kupikir
nyonya margie di bunuh oleh tuan thomas.”
“Apa yang membuatmu berprasangka seperti itu?”
danu menopang dagu dengan kedua kepalan tangannya.
“Pertengkaran mereka, yang akhir-akhir ini semakin
sering.”
“Hanya itu saja, sayangnya itu tidak membuktikan
apa-apa tuan. Tidak ada bercak darah seperti yang anda ceritakan, tidak ada
bukti apapun yang menunjukan jika tuan thomas membunuh nyonya margie. Nyonya
margie kami sudah coba hubungi namun dia berada di daerah pelosok yang minim
sinyal sekarang. Jadi sementara masih banyak bukti yang rancu, anda akan kami
tahan sementara” danu beranjak dari kursinya. Saat itu juga aku memikirkan
kehidupan monotonku yang cukup berharga di banding hidup di penjara.
Aku menengok ke kanan tempat pintu keluar terbuka.
Aku sering melihat ini di film aksi. Danu memegang lenganku dan aku berdiri,
melihat kancing sarung pistolnya yang terbuka aku merampas pistol dan lekas
mengarahkannya ke danu. Sementara bayu terdiam disana, beku dengan nafas
terengah. Aku menembak kaki kanan danu dan suara tembakan itu menggema ke
seluruh koridor. Aku berlari ke arah pintu keluar, danu masih berteriak meminta
pertolongan. Suara telapak kaki para polisi berdatangan, aku melewati beberapa
sel penjara dan berhasil keluar. ‘Mobilku mana mobilku. Tentu saja tidak ada’
jadi aku melompati pagar tinggi yang mengelilingi kantor polisi dan mendarat di
taman rumah sakit, aku melemparkan pistol itu ke semak-semak.
Aku masih bisa mendengar riuh para polisi
dari sini. Aku merasa sungguh beruntung. Aku menyusuri taman rumah sakit hingga
sampai ke belakang, ada dinding beton yang tidak begitu tinggi, aku memanjat
pohon mangga yang berada di sampingnya dan melompat ke dinding lalu melewatinya.
Sekarang aku berada di pekarangan rumah seseorang, aku mengitari pekarangan itu
dan melompati pagarnya. Aku mencuri sebuah sepeda yang bersandar di pagar, aku
akan pergi ke apartemen mona.


0 komentar:
Posting Komentar