Rabu, 14 November 2018

Gema...



Malam itu pukul tiga dini hari, hampir ke empat sebenarnya. Pak hansip membawa pentungannya, memukul-mukul tiang agar orang-orang tahu jika dia sedang berjaga. Di sepanjang jalan itu sepi. Dia jalan dari tiang satu ke tiang lain tiap sekitar sepuluh menit setelah menerawang daerah sekitar. Dia sempat bergidik  karena memperhatikan pohon di salah satu rumah warga, yaitu pak hartono. Dia di kenal juragan nangka. Pak hartono punya perkebunan nangka sekitar satu hektare dan salah satu pohonnya dia tanam di rumah sebagai hiasan. Pohon itu sekarang sudah besar dan cukup tinggi, daun rimbun dan buahnya ranum. Tapi bukan itu yang pak hansip perdulikan. Kalau dia tidak salah lihat, barusan ada sesuatu bertengger di dekat buah-buah itu menggantung. Namun pak hansip tidak menggubrisnya, ‘mungkin hanya kucing’ katanya dalam hati. Jadi dia segera berpaling dan melanjutkan tugasnya. 

Di perkampungan, keadaan tidak seperti di Kota Besar yang di setiap kiri dan kanannya nampak rumah penduduk. Di sini, rumah penduduk berjarak sekitar dua puluh meteran dari rumah ke rumah. Masih banyak lahan-lahan kosong. Lahan kosong tersebut biasanya hanya lapangan atau kebun terbengkalai yang di tumbuhi semak-semak dan pohon pisang.

Di siang hari, mungkin tempat-tempat itu terlihat hijau dan rindang. Tapi ketika malam, hanya kegelapan, kesunyian dan sesekali suara jangkrik dan tokek. Suara tokek yang kadang membuat pak hansip tersentak kaget. 

Lampu jalan hanya menerangi jalanan dan sebagian tepi jalan. Pak hansip memang membawa sebuah senter untuk menyorot kebun-lapangan gelap itu. Tapi, karena ini adalah malam pertamanya -dia merasa belum berani. Dia cuma ingin agar malam ini cepat berlalu. 

Dia sampai di tikungan tajam, di mana ada sebuah rumah kosong yang konon kata orang-orang kampung, semua penghuninya mati gantung diri. Dia kembali bergidik dan agak berlari ketika melewati rumah itu. Setelah menjauh, saat mengetuk tiang dengan pentungan, dia seperti mendengar gemanya ‘tung-tung-tung’ tapi agak sayup. Lalu dia kembali mengetuknya dan gema itu semakin jelas. Dia menghela nafas “Cuma gema”.

Pak hansip melanjutkan tugas. Di sepanjang perjalanannya dia selalu mendengar gema, tiap kali ia mengetuk tiang. Suara gemanya semakin ke sini terasa makin dekat dan jelas 'tung-tung-tung'. Ketika dia menoleh untuk memastikan, tidak ada seorangpun yang mengikutinya di belakang. Hanya jalan kosong yang kiri-kanannya lapangan luas milik Pak Haji Kodir –sangat gelap dan tidak mungkin ada seseorang yang berani sembunyi di sana untuk sekedar menakut-nakuti dia. Tapi ketika hendak kembali menoleh, dia bisa melihat dalam sepersekian detik ada sekelebat putih terbang menyebrang jalan. Seperti asap tipis berembus namun jelas.

Pak hansip cepat-cepat berlalu dari situ. Dia mulai kembali mengetuk tiang ‘tung-tung-tung’. Tapi dia mendengar gemanya lagi, begitu dekat. Asal suaranya seperti dari tiang sebelumnya yang ia sudah lewati, sekitar duapuluhlima meteran dari sini. Dia sekonyong-konyong berlari, tidak menoleh lagi. Menurutnya ini sudah waktunya kembali ke pos ronda. Dia berniat memutari kampung untuk sampai ke pos. Pak hansip bahkan sudah tidak perduli dengan tugasnya untuk mengetuk-ngetuk tiang. Namun, gema itu terus menerus berbunyi ‘turung-tung-tung, turung-tung-tung’ semakin jelas. Selama ia berlari, gema itu mengejarnya.

Pak hansip berlari sekencang dia bisa. Lalu ia sampai di tikungan tajam dan melihat sebuah pabrik besar nan gelap di hadapannya. Ia terhenti sekaligus merinding. Gedung pabrik terabaikan yang dulu pernah terjadi kebakaran, ratusan karyawannya meninggal –terbakar. 

Dia kembali berlari dan sekarang semakin kencang dari kecepatan sebelumnya. Sementara suara gema itu semakin jelas dan banyak 'turung-tung-tung turung-tung-tung', padahal dia sudah tidak lagi mengetuk-ngetuk tiang. Suara gema itu begitu jelas dan seolah mengikutinya di belakang. Pak hansip terengah-engah lalu kaki kanannya tersandung kaki kirinya sendiri. Ia jatuh tersungkur. Dia berusaha bangkit.

Ketika dia mendongak, yang pertama di lihatnya adalah gadis pucat yang bertengger di pohon nangka tadi. Dengan seringainya, kemudian ia mulai mengikikik.  Pak hansip berputar arah, bangkit dan berlari terhuyung-huyung. Tapi kemudian ia terjatuh lagi, kali ini di dekat tiang listrik dan suara pentungan-pentungan itu tepat di atas kepalanya. Lalu ketika ia menengadah, puluhan mayat gosong dan kering melayang sambil menepuk-nepuk tiang 'turung-tung-tung, turung-tung-tung'  . 

Ia mencoba menjauh sebisanya, merangkak di jalanan sambil menunduk karena sudah begitu takut. Tapi matanya kembali bertemu dengan wajah membiru dan tali tambang di lehernya, ibu itu tersenyum. Lalu ketika si pak hansip hampir menangis dan mendongak, di hadapannya berbaris mahluk-mahluk hitam legam. Juga anak-anak yang di lehernya bergelung tali tambang -lalu si gadis pucat dengan seringai dan juga senang nongkrong di pohon nangka "BIARKAN KAMI MENGIKUTI KAMU" mereka mengatakannya hampir serentak dengan suara agak serak, kemudian si kunti mulai mengikik lagi.


Keesokan harinya pak hansip di temukan pingsan di pos nya dan kemarin malam mungkin hari terakhirnya jadi hansip, karena dia mau bekerja di tempat lain.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.