Kakek bilang jika datang bulan ramadhan, semua setan bakal
diborgol dan tidak dibiarkan keluar. Tapi hari jumat kemarin, saat pulang
tarawih –tidak seperti itu kenyataannya. Jarak masjid ke rumah kakek cukup
jauh, sekitar setengah kilometer. Jalanannya adalah setapak tanah yang
terkadang banyak lubang di sana-sini –itu sebabnya aku bawa senter. Apalagi
kalau sudah turun hujan, kusarankan memakai sepatu bot karena kalian pasti
terpeleset di satu-dua lubang yang tergenang air.
Malam itu aku pulang bersama dodi, sahabatku sejak SD.
Kiri-kanan kami menjulang pohon-pohon kelapa nan tinggi. Sesekali angin dingin
membelai tengkukku, aku mempercepat langkah kalau sudah begitu. Pertama ada
suara gemerisik entah dari mana, aku menoleh kiri-kanan –tidak ada apapun. Tapi
dodi terpaku, dia menyorot salah satu pohon kelapa dengan senternya dari bawah
ke atas –giginya bergemelutuk. Pohon kelapa itu bergoyang-goyang, daun-daunnya
yang hitam dan lurus seakan tertiup angin malam. Sampai akhirnya aku sadar, itu
bukan daun kelapa –itu rambut. Aku melangkah mundur dan menyeret dodi
pelan-pelan. Tapi tubuhnya begitu berat dan kakiku gemetar.
Tingginya hampir empat meter, tubuhnya begitu ramping dan
putih pucat seperti pohon kelapa. Dia masih bergoyang-goyang entah apa
maksudnya. Sampai akhirnya sesuatu bergedebuk jatuh. Tadinya kupikir batu atau
buah kelapa namun ketika kusorot dengan senter, wajah itu menyeringai. Aku lari
sekencang yang aku bisa, meninggalkan dodi yang akhirnya pingsan.
Paginya kakek baru memberi tahuku jika yang dia maksud setan
adalah yang menggoda manusia. Kalau yang semalam itu adalah jin, dia hanya
mengganggu manusia. Lalu yang semalam, kakek bilang desa ini sudah tidak punya
lagi pohon kelapa satupun


0 komentar:
Posting Komentar