Rabu, 14 November 2018

Tetanggaku yang meninggal



Beberapa hari lalu, tetangga kami meninggal. Dia perempuan yang tangguh menurutku, karena dia bekerja paruh waktu untuk membantu suaminya yang memang agak pemalas. Tanpa menampik kalau sekarang aku sudah punya istri, aku justru ingin istri seperti itu. Dia meninggal karena serangan jantung di tempat kerjanya. Nama perempuan itu andin.

Aku mulai merasakan ada hal yang tidak beres sejak hari dikuburnya ia. Entah kenapa bunga-bunga di halamannya selalu terlihat segar setelah hari pemakaman, padahal si mantan suaminya yang bajingan itu tidak mungkin menyiraminya. Lalu saat bajingan itu tidak di rumah, aku masih merasakan keberadaan nyonya andin di dalamnya. Mondar-mandir di jendela dapur, dan ketika aku mengerjapkan mata, hal itu menghilang seperti halusinasi.

Beberapa malam ini aku tidak bisa tidur cepat karena memikirkan betapa malangnya perempuan itu. Aku bahkan sempat terbangun di beberapa malam karena seseorang mengetuk pintuku. Ketukan itu di susul lirih panggilan namaku ‘Rian...  Rian...’. Suara yang tidak asing lagi, suara nyonya andin.

Hubunganku dengan nyonya andin memang tidak bisa dibilang biasa. Karena suaminya yang sering keluar dan tidak pulang berhari-hari. Lalu istriku yang juga sering bepergian keluar bersama teman-temannya. Aku jadi sering mengobrol berduaan, kadang-kadang aku mengajak anakku. Kami berbicara kesana kemari dan tahu-tahu sudah sore atau larut.

Sore kemarin aku datang ke acara tujuh hariannya. Kemudian pagi esoknya aku pergi ke makamnya untuk mendoakannya. Tapi anehnya setelah hari itu, punggungku selalu terasa berat. Rasanya ngantuk dan selalu mau tidur atau sekadar merebahkan tubuh.

...

Tidak hanya itu, sikap jodi, anak laki-laki semata wayangku jadi agak aneh. Dia sering berbicara sendiri, awalnya kukira dia sedang bicara dengan bibi desi-pengasuhnya, tapi ternyata dia bicara sendiri. Aku bertengkar hebat dengan nora, istriku tentang masalah ini. Kejadian ini terjadi pasti karena nora terlalu banyak menghabiskan waktu di luar bersama teman-teman arisannya.

Aku membawa jodi ke psikiater. Dokter itu mengatakan jika jodi mungkin punya seorang teman imajinasi. Teman imajinasinya itu adalah perempuan yang ‘keibuan’ kata jodi, dokter itu mengakhiri penjelasannya. Sudah jelas ini kesalahan nora, dia tidak pernah ada untuk jodi –sekarang semua ini sudah terjadi.

Aku rutin membawa jodi tiap jumat sore ke psikiater. Setelah pertengkaran kami, nora pergi pulang ke rumah ibunya. Tapi tiap malam sejak nora pulang, aku sering mendengar kelontangan di dapur. Kupikir jodi, tapi ia di kamarnya ketika kuperiksa. Aku mendengar suara lirih itu namun tidak dapat kuterka asalnya. Sepertinya dari belakang telingaku.

Dari minggu ke minggu kunjungan ke psikiater, aku jadi semakin tahu siapa teman khayalan jodi –tapi ini benar-benar mustahil. Jodi bilang jika namanya ‘ibu andin’.
“Apalagi yang jodi katakan dok?”

Dokter menggeleng “dia menganggap teman khayalan itu adalah ibunya”.

...

Aku pernah melihat jodi sedang berdiri diam di depan pintu keluar rumah, saat itu pukul sepuluh malam. Dia menggenggam sesuatu yang entah apa itu dan menggumamkan sesuatu. Aku memanggilnya dan jodi sama sekali tidak bergeming. Sampai akhirnya aku menepuk pundaknya. Jodi berbalik, aku tahu sekarang yang dia genggam –sebilah pisau. Matanya begitu kosong.

Jodi semakin sering begitu. Berdiri di depan pintu dan memegang sesuatu. Pertama, pisau sudah ku sembunyikan lalu dia mengambil kikir. Kikir kusembunyikan, dia menggenggam obeng. Lalu kusembunyikan obeng, berikutnya malah dia menggenggam gunting. Akhirnya kusembunyikan segala benda runcing atau tajam.

Hari ini aku mau tahu apalagi yang dia genggam. Tapi sepulang kerja, kamarku begitu berantakan padahal nora hari ini akan pulang. Pintu-pintu lemari terbuka dan laci-laci berserakan. Bahkan brangkasku yang memang tidak dikunci, terbuka. Aku ingat menyimpan apa saja di sana. Uang, perhiasan nora, surat tanah dan pistol...  pistolku tidak ada. Terdengar bunyi bel, itu pasti nora lalu terdengar letupan senjata...

Tidak mungkin ini terjadi.

Di depan tubuh nora yang bersimbah darah, anak itu malah berkata “dia bukan ibuku”.

“Lalu siapa ibumu ha??” aku bersimpuh.

“Ibu andin adalah mamaku. Bukankah ayah menyukainya juga?”.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.