Beberapa hari lalu, tetangga kami meninggal. Dia
perempuan yang tangguh menurutku, karena dia bekerja paruh waktu untuk membantu
suaminya yang memang agak pemalas. Tanpa menampik kalau sekarang aku sudah
punya istri, aku justru ingin istri seperti itu. Dia meninggal karena serangan
jantung di tempat kerjanya. Nama perempuan itu andin.
Aku mulai merasakan ada hal yang tidak beres sejak hari
dikuburnya ia. Entah kenapa bunga-bunga di halamannya selalu terlihat segar
setelah hari pemakaman, padahal si mantan suaminya yang bajingan itu tidak
mungkin menyiraminya. Lalu saat bajingan itu tidak di rumah, aku masih
merasakan keberadaan nyonya andin di dalamnya. Mondar-mandir di jendela dapur,
dan ketika aku mengerjapkan mata, hal itu menghilang seperti halusinasi.
Beberapa malam ini aku tidak bisa tidur cepat karena
memikirkan betapa malangnya perempuan itu. Aku bahkan sempat terbangun di
beberapa malam karena seseorang mengetuk pintuku. Ketukan itu di susul lirih
panggilan namaku ‘Rian... Rian...’. Suara yang tidak asing lagi,
suara nyonya andin.
Hubunganku dengan
nyonya andin memang tidak bisa dibilang biasa. Karena suaminya yang sering
keluar dan tidak pulang berhari-hari. Lalu istriku yang juga sering bepergian
keluar bersama teman-temannya. Aku jadi sering mengobrol berduaan,
kadang-kadang aku mengajak anakku. Kami berbicara kesana kemari dan tahu-tahu
sudah sore atau larut.
Sore kemarin aku datang ke acara tujuh hariannya.
Kemudian pagi esoknya aku pergi ke makamnya untuk mendoakannya. Tapi anehnya
setelah hari itu, punggungku selalu terasa berat. Rasanya ngantuk dan selalu
mau tidur atau sekadar merebahkan tubuh.
...
Tidak hanya itu, sikap jodi, anak laki-laki semata
wayangku jadi agak aneh. Dia sering berbicara sendiri, awalnya kukira dia
sedang bicara dengan bibi desi-pengasuhnya, tapi ternyata dia bicara sendiri.
Aku bertengkar hebat dengan nora, istriku tentang masalah ini. Kejadian ini
terjadi pasti karena nora terlalu banyak menghabiskan waktu di luar bersama
teman-teman arisannya.
Aku membawa jodi ke psikiater. Dokter itu mengatakan jika
jodi mungkin punya seorang teman imajinasi. Teman imajinasinya itu adalah
perempuan yang ‘keibuan’ kata jodi, dokter itu mengakhiri penjelasannya. Sudah
jelas ini kesalahan nora, dia tidak pernah ada untuk jodi –sekarang semua ini
sudah terjadi.
Aku rutin membawa jodi tiap jumat sore ke psikiater.
Setelah pertengkaran kami, nora pergi pulang ke rumah ibunya. Tapi tiap malam
sejak nora pulang, aku sering mendengar kelontangan di dapur. Kupikir jodi,
tapi ia di kamarnya ketika kuperiksa. Aku mendengar suara lirih itu namun tidak
dapat kuterka asalnya. Sepertinya dari belakang telingaku.
Dari minggu ke minggu kunjungan ke psikiater, aku jadi
semakin tahu siapa teman khayalan jodi –tapi ini benar-benar mustahil. Jodi bilang
jika namanya ‘ibu andin’.
“Apalagi yang jodi katakan dok?”
Dokter menggeleng “dia menganggap teman khayalan itu
adalah ibunya”.
...
Aku pernah melihat jodi sedang berdiri diam di depan
pintu keluar rumah, saat itu pukul sepuluh malam. Dia menggenggam sesuatu yang
entah apa itu dan menggumamkan sesuatu. Aku memanggilnya dan jodi sama sekali
tidak bergeming. Sampai akhirnya aku menepuk pundaknya. Jodi berbalik, aku tahu
sekarang yang dia genggam –sebilah pisau. Matanya begitu kosong.
Jodi semakin sering begitu. Berdiri di depan pintu dan
memegang sesuatu. Pertama, pisau sudah ku sembunyikan lalu dia mengambil kikir.
Kikir kusembunyikan, dia menggenggam obeng. Lalu kusembunyikan obeng,
berikutnya malah dia menggenggam gunting. Akhirnya kusembunyikan segala benda
runcing atau tajam.
Hari ini aku mau tahu apalagi yang dia genggam. Tapi
sepulang kerja, kamarku begitu berantakan padahal nora hari ini akan pulang.
Pintu-pintu lemari terbuka dan laci-laci berserakan. Bahkan brangkasku yang
memang tidak dikunci, terbuka. Aku ingat menyimpan apa saja di sana. Uang,
perhiasan nora, surat tanah dan pistol...
pistolku tidak ada. Terdengar bunyi bel, itu pasti nora lalu terdengar
letupan senjata...
Tidak mungkin ini terjadi.
Di depan tubuh nora yang bersimbah darah, anak itu malah
berkata “dia bukan ibuku”.
“Lalu siapa ibumu ha??” aku bersimpuh.
“Ibu andin adalah mamaku. Bukankah ayah menyukainya
juga?”.


0 komentar:
Posting Komentar