Rabu, 14 November 2018

Monoton (Bagian I)




Kejadiannya berulang seperti putaran, seringkali membuatku pusing dan kehilangan kedali. Aku terbaring di sofa karena kejadian itu lagi. Ini seperti dejavu berkepanjangan dan aku mesti mengalaminya setiap hari. Ini begitu melelahkan.

Pagi itu aku duduk di serambi rumah, memperhatikan tuan thomas dan nyonya margaret yang duduk santai sambil meminum kopi dari jendela terbukanya. Aku tidak tahu yang di bicarakan, tetapi setiap pagi mereka begitu. Namun kali ini berbeda sedikit. Awalnya ada sebuah telepon dari seseorang yang kemudian membuat nyonya margaret terlihat begitu marah setelah menutup telepon. Tuan thomas lekas berdiri dan membanting gelas, menghardik perempuan paruh baya itu sampai ia hanya merunduk diam seperti anak kecil yang di marahi. Bertahun-tahun mereka begitu harmonis, baru ini aku melihatnya bertengkar.

Tadinya kukira hanya sekali terjadi. Tapi kejadian itu seolah menjadi keseharian, walau dengan penyebab yang berbeda-beda. Seperti pagi ini ketika nyonya margie (begitu panggilannya) tidak sengaja menumpahkan kopi ke koran pagi tuan thomas. Si lelaki tua itu mulai menghardik dan nyonya margie tertunduk, seolah-olah takut akan di pukul. Kadang aku ingin merasa ikut campur, tapi setelah di pikir-pikir –lebih baik jangan, karena aku tidak begitu mengenal mereka.
...
Ketika di kantor, bos begitu tahu cara menekan kesabaranku sampai pada titik tertingginya. File-file tertumpuk di mejaku hingga aku tidak bisa melihat di mana layar komputerku. File-file itu mesti selesai setiap harinya, jika tidak selesai itu berarti lembur. Hampir setiap hari begini dan aku begitu lelah.

Terkadang aku kehilangan kendali, tertidur saat bekerja sampai akhirnya bosku yang seperti babi itu menggebrak mejaku. Sambil menggosok-gosok mata, aku tersenyum dan dia hanya menggeleng. Jika bukan karena ayahku yang pernah mengabdi lama di perusahaan ini, aku mungkin sudah di pecat. Ketiduranku menjadi kebiasaan yang hampir tidak bisa lepas dari jam-jam kerja. Terkadang kepala ini begitu pusing sehingga aku mesti minum obat anti depresan.
...
Sepulang kerja yang biasa kulakukan hanyalah menyetel televisi sampai malam, ketika hendak tidur aku baru bersih-bersih tubuh. Aku biasanya menonton film-film serial. Yah setidaknya hidupku jadi tidak begitu monoton. Serial itu seperti ada yang selalu bisa di nanti dan beda.

Aku biasanya minum anggur jika ada kejadian yang lebih mengganggu pikiran, seperti berandalan lewat gang rumah dan mengetuk-ngetuk jendela, menendang tong sampah. Atau mobil polisi dan ambulans yang kadang seliweran di jalan depan rumah. Bahkan aku bisa begitu pening hanya dengan mendengar kucing meraung-raung dihalaman. Keseharian-keseharian-keseharian, kurasa hal-hal bodoh macam begini tak pantas di sebut kegiatan hari-hari.
...
Mungkin hal yang paling tidak menjemukan dari semua hal tadi hanyalah mona. Perempuan idaman yang begitu mengagumiku, kurasa. Sabtu-minggu akan kuhabiskan bersamanya. Jalan-jalan, makan malam, bercengkrama, bercinta.

Umurnya lebih muda dua tahun dariku (21), pinggulnya sintal dan aku paling suka rambut hitamnya yang di kuncir kuda.  Dia seorang sekertaris di perusahaan yang tidak jauh dari kantorku. Dia selalu bisa membuat hubungan ini tidak membosankan. Seperti kemarin malam ketika kami berhenti di sebuah kolong jembatan layang, kami bercinta didalam mobil.

Dia mengagumiku karena hanya akulah pria paling penurut, menurutnya.
...
Pagi ini senin dan jam menunjukan pukul delapan lewat lima belas, aku kesiangan –tidak seperti biasanya. Aku hafal sekali pukul berapa saja biasanya keluarga tuan thomas memulai keributannya di pemukiman yang jarang penduduk ini. Namun ini sudah lewat dari perkiraan, apa mungkin pertengkaran mereka sudah kelar. Setelah mandi dan berpakaian, aku memanaskan mobil lalu kulihat jendela mereka tertutup namun pintu belakangnya terbuka, dan ada darah bersimbah di lantai masuknya.



Bersambung ...

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.