Kejadiannya berulang seperti putaran, seringkali
membuatku pusing dan kehilangan kedali. Aku terbaring di sofa karena kejadian
itu lagi. Ini seperti dejavu berkepanjangan dan aku mesti mengalaminya setiap
hari. Ini begitu melelahkan.
Pagi itu aku duduk di serambi rumah, memperhatikan
tuan thomas dan nyonya margaret yang duduk santai sambil meminum kopi dari
jendela terbukanya. Aku tidak tahu yang di bicarakan, tetapi setiap pagi mereka
begitu. Namun kali ini berbeda sedikit. Awalnya ada sebuah telepon dari
seseorang yang kemudian membuat nyonya margaret terlihat begitu marah setelah
menutup telepon. Tuan thomas lekas berdiri dan membanting gelas, menghardik
perempuan paruh baya itu sampai ia hanya merunduk diam seperti anak kecil yang
di marahi. Bertahun-tahun mereka begitu harmonis, baru ini aku melihatnya
bertengkar.
Tadinya kukira hanya sekali terjadi. Tapi kejadian
itu seolah menjadi keseharian, walau dengan penyebab yang berbeda-beda. Seperti
pagi ini ketika nyonya margie (begitu panggilannya) tidak sengaja menumpahkan
kopi ke koran pagi tuan thomas. Si lelaki tua itu mulai menghardik dan nyonya
margie tertunduk, seolah-olah takut akan di pukul. Kadang aku ingin merasa ikut
campur, tapi setelah di pikir-pikir –lebih baik jangan, karena aku tidak begitu
mengenal mereka.
...
Ketika di kantor, bos begitu tahu cara menekan
kesabaranku sampai pada titik tertingginya. File-file tertumpuk di mejaku hingga aku tidak bisa melihat di mana
layar komputerku. File-file itu mesti selesai setiap harinya, jika tidak selesai
itu berarti lembur. Hampir setiap hari begini dan aku begitu lelah.
Terkadang aku kehilangan kendali, tertidur saat
bekerja sampai akhirnya bosku yang seperti babi itu menggebrak mejaku. Sambil
menggosok-gosok mata, aku tersenyum dan dia hanya menggeleng. Jika bukan karena
ayahku yang pernah mengabdi lama di perusahaan ini, aku mungkin sudah di pecat.
Ketiduranku menjadi kebiasaan yang hampir tidak bisa lepas dari jam-jam kerja.
Terkadang kepala ini begitu pusing sehingga aku mesti minum obat anti depresan.
...
Sepulang kerja yang biasa kulakukan hanyalah
menyetel televisi sampai malam, ketika hendak tidur aku baru bersih-bersih
tubuh. Aku biasanya menonton film-film serial. Yah setidaknya hidupku jadi
tidak begitu monoton. Serial itu seperti ada yang selalu bisa di nanti dan
beda.
Aku biasanya minum anggur jika ada kejadian yang
lebih mengganggu pikiran, seperti berandalan lewat gang rumah dan
mengetuk-ngetuk jendela, menendang tong sampah. Atau mobil polisi dan ambulans
yang kadang seliweran di jalan depan rumah. Bahkan aku bisa begitu pening hanya
dengan mendengar kucing meraung-raung dihalaman.
Keseharian-keseharian-keseharian, kurasa hal-hal bodoh macam begini tak pantas
di sebut kegiatan hari-hari.
...
Mungkin hal yang paling tidak menjemukan dari
semua hal tadi hanyalah mona. Perempuan idaman yang begitu mengagumiku, kurasa.
Sabtu-minggu akan kuhabiskan bersamanya. Jalan-jalan, makan malam,
bercengkrama, bercinta.
Umurnya lebih muda dua tahun dariku (21),
pinggulnya sintal dan aku paling suka rambut hitamnya yang di kuncir kuda. Dia seorang sekertaris di perusahaan yang
tidak jauh dari kantorku. Dia selalu bisa membuat hubungan ini tidak
membosankan. Seperti kemarin malam ketika kami berhenti di sebuah kolong
jembatan layang, kami bercinta didalam mobil.
Dia mengagumiku karena hanya akulah pria paling
penurut, menurutnya.
...
Pagi ini senin dan jam menunjukan pukul
delapan lewat lima belas, aku kesiangan –tidak seperti biasanya. Aku hafal
sekali pukul berapa saja biasanya keluarga tuan thomas memulai keributannya di
pemukiman yang jarang penduduk ini. Namun ini sudah lewat dari perkiraan, apa
mungkin pertengkaran mereka sudah kelar. Setelah mandi dan berpakaian, aku
memanaskan mobil lalu kulihat jendela mereka tertutup namun pintu belakangnya terbuka,
dan ada darah bersimbah di lantai masuknya.
Bersambung ...


0 komentar:
Posting Komentar