Rabu, 14 November 2018

Monoton (Bagian III)



Aku bersembunyi di pepohonan taman depan gedung apartemen mona karena dia disana bersama seorang lelaki, di depan lift apartemen –sedang membicarakan sesuatu yang tampaknya sangat menyenangkan lalu mengakhirinya dengan ciuman. Aku menunggu lelaki itu pergi. Kemudian aku baru masuk.
...
Aku berada di depan pintu mona, memencet bel cukup lama sampai akhirnya dia keluar dan kebingungan melihatku, dia menciumku –terasa bekas bibir orang lain menempel disana. Dia menyuguhkan teh lalu aku mulai bercerita segalanya. Ketika kami menyalakan televisi hal yang kubicarakan semakin jelas, karena sekarang aku sudah menjadi buronan. Dia hendak pergi kerja dan berkata jika aku tidak boleh kemanapun, ada banyak hal dia sebutkan tapi yang kuingat hanya senyumnya sebelum akhirnya dia menutup pintu.
...
Ketika malam datang aku begitu gelisah karena sudah hampir jam sebelas dan mona belum juga pulang. Aku menuruni apartemen  dan menunggunya di depan pintu gedung. Ada sepasang kekasih yang sedang bertengkar di samping mobil seberang jalan. Tidak begitu jelas apa kata-katanya tapi aku melihat beberapa kali lelaki itu membentak lalu memukul perempuannya. Tanganku begitu panas hingga ingin mendaratkan pukulan di wajah lelaki itu, tapi aku sadar itu bukan urusanku. Malam itu begitu samar karena lampu jalanan padam, jadi aku tidak begitu jelas melihat seperti apa rupa mereka.

Pertengkaran itu selesai, si lelaki masuk ke mobil dan mungkin si perempuan juga, karena aku tidak melihatnya lagi. Mobil itu menyala dan melaju seolah dia sudah muak di perhatikan olehku. Tapi di trotoar tempat mobil tadi berhenti, seorang perempuan tergeletak. Dia tidak masuk mobil. Lelaki itu benar-benar gila. Aku mengusap rambut perempuan itu hingga aku bisa melihat wajahnya, dia mona. Aku sungguh menyesal.
...
Aku tidur di samping mona, mencium keningnya berkali-kali dan mengatakan jika aku mencintainya berkali-kali. Mona belum juga siuman, aku bersumpah jika aku bertemu dengan lelaki itu lagi, aku bakal memukulnya sampai mati. Aku melangkah ke kamar mandi, melihat wajahku di cermin yang semakin tua. Muka ku begitu kusut dan bergelayut pada beberapa bagian. Akhir-akhir ini semakin di luar kendali, dan aku merasa sudah tidak tahan. Aku membuka laci obat dan menemukan anti depresan, aku meminumnya beberapa agar tidurku nyenyak.

Kejadian berulang-ulangku sekarang tidak lagi berulang.

Paginya mona sudah tidak di kasur. Aku berbenah, menyetel televisi dan menyaksikan berita. Beberapanya masih berita tentangku, jadi aku memutuskan untuk tidak keluar apartemen dulu. Ketika siang datang dan aku begitu bosan, aku memutuskan keluar sebentar. Aku memakai sweater dengan tudung kepala lalu kacamata hitam. Kukunci apartemen dan kususuri jalan menuju lift tapi entah kenapa ada yang aneh. Aku tidak jadi masuk lift tapi malah mengikuti noda-noda merah di dinding. Semakin jauh noda itu semakin jelas seperti usapan seseorang dengan tangan berlumur darah. Melewati koridor dan noda darah itu berhenti di depan sebuah pintu gudang alat kebersihan.

‘Tidak lagi’ aku menoleh belakang dan orang itu, lelaki yang mencium mona siang itu, lelaki yang memukuli mona malam tadi –memegang sebilah pisau bernoda darah. Aku menerjangnya, meninjunya sampai puas, menindih tubuhnya dan kuhancurkan wajah itu sampai benar-benar hancur. Dia tersengal dan mengerang sambil memohon ampun. Ada banyak warga apartemen yang nanar melihat kejadian itu, salah satunya mona.


Aku sering berhalusinasi jika adikku merebut semua milikku, termasuk kedua orang tuaku. Lalu aku menyaksikan seseorang yang begitu membencinya membunuhnya, hanya karena aku begitu bosan dengan kejadian yang selalu sama setiap harinya. Padahal itu tidak benar-benar terjadi, tapi aku tetap merasa senang bisa keluar lingkaran. Padahal adikku tidak mati, padahal aku tidak punya adik dan orang tua. Aku hanya anak panti asuhan yang rajin sekolah, anak baik yang selalu melaksanakan kegiatan itu-itu saja setiap harinya. Tapi ada saat-saat di mana aku begitu tertekan dan mencapai titik terendah dari kesabaranku lalu itu semua terjadi begitu saja seperti mimpi yang terasa begitu nyata.
...
Jeruji-jeruji ini, aku baru merasakannya sedekat ini, bau karat di besi-besinya juga bau pesing yang entah dari mana. Aku di hukum atas pembobolan rumah tuan thomas, penembakan terhadap polisi dan pemukulan terhadap adam, kekasih gelap mona. Kemarin mona datang dan meminta maaf padaku karena dia telah selingkuh. Kami sepakat untuk memutuskan hubungan dan mona berkata jika dia akan segera menikah dengan adam. Dia berharap aku bisa datang, tapi kami berdua jelas tahu, aku tidak mungkin datang.

Entah mesti berapa lama lagi aku didalam sini. Aku merasa makin gelisah dan depresi, ini semua telah mencapai titik kesabaranku dan aku yakin hal itu bakal terjadi lagi.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.