Aku bersembunyi di pepohonan taman depan gedung
apartemen mona karena dia disana bersama seorang lelaki, di depan lift
apartemen –sedang membicarakan sesuatu yang tampaknya sangat menyenangkan lalu
mengakhirinya dengan ciuman. Aku menunggu lelaki itu pergi. Kemudian aku baru
masuk.
...
Aku berada di depan pintu mona, memencet bel cukup
lama sampai akhirnya dia keluar dan kebingungan melihatku, dia menciumku
–terasa bekas bibir orang lain menempel disana. Dia menyuguhkan teh lalu aku
mulai bercerita segalanya. Ketika kami menyalakan televisi hal yang kubicarakan
semakin jelas, karena sekarang aku sudah menjadi buronan. Dia hendak pergi
kerja dan berkata jika aku tidak boleh kemanapun, ada banyak hal dia sebutkan
tapi yang kuingat hanya senyumnya sebelum akhirnya dia menutup pintu.
...
Ketika malam datang aku begitu gelisah karena
sudah hampir jam sebelas dan mona belum juga pulang. Aku menuruni
apartemen dan menunggunya di depan pintu
gedung. Ada sepasang kekasih yang sedang bertengkar di samping mobil seberang
jalan. Tidak begitu jelas apa kata-katanya tapi aku melihat beberapa kali
lelaki itu membentak lalu memukul perempuannya. Tanganku begitu panas hingga
ingin mendaratkan pukulan di wajah lelaki itu, tapi aku sadar itu bukan
urusanku. Malam itu begitu samar karena lampu jalanan padam, jadi aku tidak
begitu jelas melihat seperti apa rupa mereka.
Pertengkaran itu selesai, si lelaki masuk ke mobil
dan mungkin si perempuan juga, karena aku tidak melihatnya lagi. Mobil itu
menyala dan melaju seolah dia sudah muak di perhatikan olehku. Tapi di trotoar
tempat mobil tadi berhenti, seorang perempuan tergeletak. Dia tidak masuk
mobil. Lelaki itu benar-benar gila. Aku mengusap rambut perempuan itu hingga
aku bisa melihat wajahnya, dia mona. Aku sungguh menyesal.
...
Aku tidur di samping mona, mencium keningnya
berkali-kali dan mengatakan jika aku mencintainya berkali-kali. Mona belum juga
siuman, aku bersumpah jika aku bertemu dengan lelaki itu lagi, aku bakal
memukulnya sampai mati. Aku melangkah ke kamar mandi, melihat wajahku di cermin
yang semakin tua. Muka ku begitu kusut dan bergelayut pada beberapa bagian.
Akhir-akhir ini semakin di luar kendali, dan aku merasa sudah tidak tahan. Aku
membuka laci obat dan menemukan anti depresan, aku meminumnya beberapa agar
tidurku nyenyak.
Kejadian berulang-ulangku sekarang tidak lagi berulang.
Paginya mona sudah tidak di kasur. Aku berbenah,
menyetel televisi dan menyaksikan berita. Beberapanya masih berita tentangku,
jadi aku memutuskan untuk tidak keluar apartemen dulu. Ketika siang datang dan
aku begitu bosan, aku memutuskan keluar sebentar. Aku memakai sweater dengan
tudung kepala lalu kacamata hitam. Kukunci apartemen dan kususuri jalan menuju
lift tapi entah kenapa ada yang aneh. Aku tidak jadi masuk lift tapi malah
mengikuti noda-noda merah di dinding. Semakin jauh noda itu semakin jelas
seperti usapan seseorang dengan tangan berlumur darah. Melewati koridor dan
noda darah itu berhenti di depan sebuah pintu gudang alat kebersihan.
‘Tidak lagi’ aku menoleh belakang dan
orang itu, lelaki yang mencium mona siang itu, lelaki yang memukuli mona malam
tadi –memegang sebilah pisau bernoda darah. Aku menerjangnya, meninjunya sampai
puas, menindih tubuhnya dan kuhancurkan wajah itu sampai benar-benar hancur.
Dia tersengal dan mengerang sambil memohon ampun. Ada banyak warga apartemen yang
nanar melihat kejadian itu, salah satunya mona.
Aku sering berhalusinasi jika adikku merebut semua
milikku, termasuk kedua orang tuaku. Lalu aku menyaksikan seseorang yang begitu
membencinya membunuhnya, hanya karena aku begitu bosan dengan kejadian yang
selalu sama setiap harinya. Padahal itu tidak benar-benar terjadi, tapi aku
tetap merasa senang bisa keluar lingkaran. Padahal adikku tidak mati, padahal
aku tidak punya adik dan orang tua. Aku hanya anak panti asuhan yang rajin
sekolah, anak baik yang selalu melaksanakan kegiatan itu-itu saja setiap
harinya. Tapi ada saat-saat di mana aku begitu tertekan dan mencapai titik
terendah dari kesabaranku lalu itu semua terjadi begitu saja seperti mimpi yang
terasa begitu nyata.
...
Jeruji-jeruji ini, aku baru merasakannya sedekat
ini, bau karat di besi-besinya juga bau pesing yang entah dari mana. Aku di
hukum atas pembobolan rumah tuan thomas, penembakan terhadap polisi dan
pemukulan terhadap adam, kekasih gelap mona. Kemarin mona datang dan meminta
maaf padaku karena dia telah selingkuh. Kami sepakat untuk memutuskan hubungan
dan mona berkata jika dia akan segera menikah dengan adam. Dia berharap aku
bisa datang, tapi kami berdua jelas tahu, aku tidak mungkin datang.
Entah mesti berapa lama lagi aku didalam sini. Aku
merasa makin gelisah dan depresi, ini semua telah mencapai titik kesabaranku
dan aku yakin hal itu bakal terjadi lagi.


0 komentar:
Posting Komentar