Rabu, 14 November 2018

Kata Peramal



Suatu hari aku pergi bersama kekasihku ke sebuah karnaval tidak jauh dari komplek kami. Setelah menaiki beberapa wahana, hana, kekasihku menunjuk salah satu stan yang tampak begitu sepi. Bahkan lebih sepi dari toilet umum di sini. Seseorang berpakaian aneh menunggui stan itu. Di hadapannya ada bola kristal yang seolah-olah berisi semesta di dalamnya, berputar dan sempat membuatku terpaku beberapa saat.

Hana minta di ramalkan tentang hubungan kami. Aku orang nya amat sangat skeptis, jadi tidak percaya hal hal begini. Tapi ini permintaan hana. Pertama-tama dia bilang jika dua bulan lagi kami akan menikah. Aku menggeleng, biaya dari mana –sementara tabungan ku saja baru cukup untuk biaya resepsi. Dia berkata jika aku bakal punya lamborghini, aku kembali menggeleng. Dia berkata jika bakal ada konsekuensi besar dari kekayaanku yang drastis, itu hanya mengambil satu tapi cukup untuk membuatku mati, aku mulai serius memperhatikannya.

Dia menatapku, “hidupmu akan semakin bahagia jika kau berhasil menghadapi kehilangan-kehilanganmu. Kamu juga akan memiliki anak kembar” hana melonjak kegirangan mendengar hal itu. Dia terdiam dan mengangguk. Hana memberinya dua puluh ribuan dan memasukannya ke toples kacanya. Tapi tepat saat kami berbalik hendak pergi, peramal itu menarik tanganku sementara hana berjalan menjauh. Aku menoleh gusar, tapi perempuan itu tampaknya serius “ada satu saat di mana anak-anakmu berebut boneka anak perempuan berkuncir dua, berikan itu pada anakmu yang paling jutek dan menyebalkan, karena kalau tidak” dia tidak melanjutkan kata-katanya. Dia melepas cengkraman tangannya dan membiarkanku pergi.

Beberapa hari setelah kejadian itu, di lapangan parkir aku menemukan sebuah koper hitam berisi lembaran seratus ribuan yang banyak sekali. Mungkin itulah yang membuatku kaya. Tapi aku berusaha memungkiri ramalan itu, jadi agar meleset kuberikan koper tersebut ke kantor polisi. Tak disangka ternyata si empunya koper adalah bos besar pemilik perusahaanku. Dia berkata sulit sekali menemukan orang jujur di zaman sekarang. Dia menaikan pangkatku yang hanya karyawan biasa menjadi manajer.

Gajiku sebulan sudah lebih dari cukup untuk biaya menikah. Beberapa minggu kemudian aku menikah dengan hana. Perhitungan sama persis, dua bulan setelah aku pergi ke si peramal. Tapi ini bukan berarti aku menerima mentah-mentah ramalannya, bisa saja ini cuma kebetulan. Pada pernikahanku, kami menaiki lamborghini –hadiah dari direktur perusahaan untukku.

Beberapa minggu kemudian aku dapat kabar jika hana tengah mengandung. Namun malamnya aku malah mendapat kabar dari rumah ibuku, bahwa ibu terpeleset di kamar mandi –kepalanya terbentur. Aku pulang ke sana seminggu sekali. Tapi karena hal itu aku minta izin pada direktur untuk pulang lebih awal. Aku pulang saat itu juga. Di jalan menuju ke sana aku menabrak seekor burung gagak yang entah kenapa bisa ada di depan kaca mobilku. Aku turun untuk mengeceknya sebentar tapi mayat burung itu entah terpental kemana.

Ibu sudah dilarikan ke rumah sakit di kota. Aku sampai di area rumah sakit dan tergopoh-gopoh turun dari mobil. Menunggu di lift dan mondar mandir karena waktu rasanya lambat sekali. Saat keluar lift aku melihat di ujung lorong, adik adikku sedang termenung. Pada saat itu juga pintu di ujung lorong terbuka lebar sekali, usungan keluar dan di atasnya seseorang terbaring, tertutup sepenuhnya oleh kain putih.

Ini sebabnya aku benci sekali peramal. Aku meminta izin untuk libur beberapa hari. Aku menginap di rumah ibuku sementara hana pulang ke rumah orang tuanya, karena aku bilang padanya, aku sedang butuh waktu sendiri. Aku masih sering melihat ibu mondar mandir di lorong rumah ini. Mengetuk pintu kamar kami satu persatu dan berkata jika makan malam sudah siap. Aku rindu saat saat itu. Di mana pintu pintu kamar kami digedor karena kesiangan masuk sekolah. Di pukuli pakai sebatang lidi karena tidak mengerjakan PR. Wajar saja, karena ibuku adalah seorang guru. Karena hal hal itulah aku mengingat ibu hampir di setiap kegiatanku. Ibu selalu melarang kami bersendawa dengan mulut terbuka. Malam itu saat kami nujuh harian ibu, aku tidak sengaja sendawa sehabis makan. Kepalaku rasanya di pukul dari belakang, entah oleh siapa. Mungkin itu ibu.

Aku masih sering melihat ibu masak di dapur pagi sekali. Menjemur pakaian-pakaian kami, merajut di ruang tamu sambil mendengarkan radio usangnya –aku masih sering melihatnya menata bingkai-bingkai foto pernikahannya dengan ayahku.

Dia perempuan tangguh, ayah meninggal  saat aku berumur dua belas –meninggal karena serangan jantung. Sejak saat itu aku mesti membantu ibu karena adik-adikku masih sangat kecil. Ibu tetaplah pahlawan bagiku, karena dia yang paling keras berjuang. Aku hanya ingin membalas budi. Kalau aku mesti menjual nyawaku untuk membawanya hidup kembali pasti akan kutukar nyawa ini.

Sepanjang sisa hidupku ini sudah tidak berguna lagi. Tujuanku hanya membahagiakan ibu tapi sekarang itu lenyap begitu saja. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan hampir seratus duapuluh, rasanya hampir terbang. Tapi kemudian aku mengingat hana. Kuinjak rem sedalam dalamnya hingga belakang mobilku terangkat, tepat di depanku –tikungan tajam dan aku selamat.

Setelah kematian ibu, kupikir hidupku bakal semakin kosong tapi itu berubah ketika kedua anakku lahir. Kuberi ia nama mawar dan melati karena mereka berdua perempuan. Anak anakku sungguh lucu tapi ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan yang aneh menurutku untuk ukuran anak kembar. Mawar cenderung lebih cantik dan lucu tapi dia jarang bersuara. Beda dengan melati yang tidak begitu lucu namun sangat rewel dan sangat sering menangis.

Ketika beranjak ke dua belas tahun, mawar benar-benar menjelma menjadi seorang gadis cantik. Namun berbeda jauh dengan sikapnya, dia sering keluar malam tanpa sepengetahuanku. Dia juga sering berbohong dan membangkang. Pernah sekali aku mau menamparnya karena dia membentak dan berkata kotor pada ibunya, kalau saja melati tidak menangkap tanganku –mawar mungkin sudah kena tamparanku.

Ada satu hal yang baru kuingat dari si peramal. Masih ada satu ramalan lagi. Awalnya aku memang tidak begitu percaya, sampai sekarangpun masih. Tapi aku sedikit percaya.

Suatu malam aku menemukan sebuah boneka di perjalanan pulang kerja. Boneka perempuan berkuncir dua. Sesampai di rumah, aku memasukannya ke mesin cuci. Paginya aku terlonjak karena istriku teriak-teriak, dia sedang mencoba menghentikan anak-anakku yang sedang berebut boneka. Setelah kulirik, itu adalah boneka semalam –aku merampasnya. Mawar melompat lompat berusaha menggapai  tapi aku mengangkat boneka itu tinggi-tinggi, melati juga ikut lompat. Tidak biasanya melati begini, dia selalu mengalah yang kutahu. Aku menyuruh mereka diam.

Mawar tampak begitu kesal tapi melati memandangku penuh belas kasih, dia memohon. Mawar memalingkan muka dan menggerutu. Aku memberikan boneka itu pada melati, dia terlihat sangat senang. Sepanjang sisa hari itu melati bermain bersama boneka berkuncir dua itu. Aku amat bahagia melihatnya. Tapi sepanjang hari itu juga aku tidak melihat mawar. Terakhir, dia mengumpat padaku yang tidak memberinya boneka. Membanting pintu di depan wajah hana lalu dia menaiki sepeda entah pergi kemana.

Jam berganti ke hari, kami semakin khawatir dan melapor ke kantor polisi. Hampir semua teman mawar sudah kami hubungi dan hasilnya nihil. Selama beberapa minggu aku tidak bisa konsentrasi bekerja karena memikirkan mawar. Aku sering bermimpi buruk, bangun di tengah malam sambil meneriakan nama ‘Mawar’. Aku sering mendapat mimpi buruk seperti menemukan mawar hanyut di sungai, di mutilasi bahkan di kubur hidup-hidup. Karena pergaulan anak zaman sekarang benar-benar mengkhawatirkan dan seharusnya aku bisa membimbingnya dengan lebih baik lagi.

Sudah dua bulan berlalu sampai seorang polisi bertengger di serambi rumah kami, aku pulang terburu-buru karena melati menelponku. Hana terbaring di balai, melati masih sesenggukan sambil memangku kepala ibunya. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa, polisi itu menunduk dan mulai menuturkan sesuatu padaku. Hanya beberapa kata yang kudengar, selanjutnya cuma bunyi denging panjang –tidak terdengar suara apa-apa lagi. Mawar di temukan OD di sebuah rumah kosong.

Di hari pemakaman mawar, aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengadzaninya sambil terisak-isak, aku mendengar saat itu burung-burung gagak berkoak. Sampai sore seluruh orang sudah pulang, aku masih bersimpuh di depan makamnya. Tidak ada lagi yang bisa ku lakukan. Entah kenapa setelah hari itu, aku semakin sering melihat burung gagak. Tadinya kupikir cuma halusinasi. Tapi barusan aku menembak salah satunya, sedang bertengger di pohon ceri. Melati melihatnya dan bertanya “Kenapa ayah menembak burung itu?” begitu lugu dan polos.

Singkatnya semua semakin memburuk. Kenapa bisa? tentu saja bisa. Ada banyak hal datang membahagiakan hidupku. ‘Tapi cukup butuh satu untuk membuatku mati’. Aku pernah mendengar kata-kata itu rasanya, tapi entah di mana. Semua bermulai ketika hana terlihat sering merenung. Aku sangat khawatir tapi beberapa hari kemudian dia kembali normal. Namun dia memanggil melati dengan sebutan ‘Mawar’. Hana semakin sering melakukannya, sampai aku mesti bicara pada melati agar bersedia di panggil mawar sementara waktu.
 
Tahun-tahun berganti dan melati beranjak dewasa. Saat itu acara pesta ulang tahun ke tujuh belasnya. Di depan semua temannya melati di panggil ‘Mawar’. Melati tidak terima dan langsung menyanggah, “Ibu, ini aku Melati! ME-LA-TI!!”. Tiba-tiba raut wajah hana berubah. Dia menjambak melati di depan teman-temannya “Lalu mana Mawarku? mana Mawar?!”. Sepanjang sisa malam itu hanya keheningan. Pesta bubar saat itu juga, hana mengurung diri di kamar. Melati menangis hampir semalaman dan dia terus mengeluh.

“Aku tidak bisa terus melakukan ini, tidak bisa ayah. Sebentar lagi aku akan masuk kuliah, bagaimana jika nanti teman-teman ku datang ke rumah dan ibu...” dia kembali menangis, aku memeluknya. Tidak ada yang bisa kulakukan. Keesokan paginya aku berangkat kerja, tidak ada koak gagak ataupun langit mendung yang seolah-olah menandakan sial. Namun telponku berdering sekitar pukul 13.00, aku mengangkatnya.

“Maaf bapak sebelumnya jika kami telat memberi tahu. Kejadian ini begitu tiba-tiba dan kami mesti bergegas menuju rumah anda siang tadi...” selebihnya dia bicara panjang lebar mengulur waktu, berusaha menenangkanku –tapi sudahlah, ini telah terjadi.

Melati menelpon ke kantor polisi karena hana berusaha membunuhnya. Melati di tikam berkali-kali dan setelah membunuh melati, hana menggantung dirinya. Aku sudah hancur. Aku berdiri di tepi atap gedung kantorku, angin menghempas dari bawah. Ini akhirnya, ternyata memang benar –aku benci peramal.

...

Dia mencengkram erat tanganku “Bagaimana, apa kamu masih mau memberikan boneka itu padanya?” suara peramal itu begitu lirih dan parau. Aku menggeleng. Dia tersenyum sambil melepas cengkramannya perlahan. Aku tidak menyangka yang barusan itu begitu nyata. Bagaimana jika kali ini uang di kopernya ku ambil saja ya.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.