Berhari-hari
setelah itu istriku tidak lagi insomnia berkat obat tidur yang dia minum
sebelum malam. Tapi ada yang berubah juga darinya. Sinta sekarang makin pelupa.
Dia lupa hal hal kecil seperti lupa mematikan lampu, lupa kalau sedang memasak
air bahkan lupa meninggalkan setrika begitu saja menyala. Rumah kami hampir
saja kebakaran kalau saja kedua anak kembarku tidak memadamkan meja setrika
yang terbakar, sementara sinta sedang enak meminum teh di serambi rumah.
Aku
membawanya ke dokter sekali lagi dan dokter bilang jika sinta terkena Short
term memory lost. Penyakit lupa sementara. Dokter bilang jika sinta harus
berhenti meminum obat tidur. Tapi itu berarti dia harus kembali insomnia lagi.
Aku berfikir keras malam itu. Pada akhirnya aku membiarkannya tetap meminum
obat tidur itu. Pilihan yang sulit, tapi kurasa itu lebih baik daripada ia
terus terusan tidak tidur.
Hal
itu bukan begitu saja kulakukan. Membiarkannya minum obat itu berarti aku mesti
selalu mengingatkannya akan hal apapun. Jika aku sedang bekerja, aku hampir
setiap jam menelpon nya untuk bertanya keadaan. Apa rana dan rani sudah pulang?
Apa dia sedang memasak air? Apa dia sedang menyetrika? Apa dia sedang meng-oven
sesuatu? Banyak hal yang kutanyakan, meski sangat melelahkan tapi ini cara satu
satunya.
Sekali
waktu aku pernah menghubunginya, aku sedang keluar kota saat itu, aku
menghubunginya lewat telepon hotel. Aku bertanya rentetan hal kecil seperti
biasa, tapi yang dia jawab justru mengagetkanku. “Maaf ini siapa?”, aku
terkekeh dan bertanya apakah rana dan rani sudah pulang. Dia diam sebentar
sampai akhirnya kembali bertanya “Siapa rana dan rani?”. Jujur aku sedang lelah
sekali hari itu dan suasana hatiku sedang tidak enak, jadi aku membentak sinta
dan kukatakan aku sedang tidak ingin bercanda. Dia malah terkekeh “Aku serius,
anda ini siapa? Siapa pula rana-rani?”.
Aku
langsung menutup telepon dengan penuh amarah dan akhirnya aku tertidur.
Besoknya aku mencoba menghubunginya dengan ponselku tapi seharian ini tidak ada
yang diangkat satupun panggilangku. Aku semakin khawatir.
Sore
itu, aku sedang makan di kedai bersama kolegaku, kami masih diluar kota. Kami
menonton televisi dan melihat breaking news. Terjadi pembantaian keji di daerah
tempat tinggalku, aku terdiam menyaksikan. Karena setahuku lingkungan tempat
tinggal kami sangat aman dan nyaman.
Seorang
ibu membunuh kedua anak kandungnya. Aku melihat rumahku di keliling garis
polisi dan tetangga tetangga yang ku kenal berkerumun menyaksikan apa yang
sedang terjadi. Istriku di seret paksa oleh tiga orang polisi, sementara ia
terus berteriak “mereka bukan anakku-bukan anakku. Mereka pencuri kecil yang
sengaja masuk!!! Makan makanan dari kulkas ku dan duduk seenaknya di sofaku.
Jadi aku membunuhnya!!” sinta terus meronta. Aku terperangah. Ternyata sinta
sudah benar-benar lupa.

