Selasa, 09 Oktober 2018

Lupa


Awalnya aku hanya menganggap hal ini biasa saja. Akhir akhir ini sinta sering sekali insomnia bahkan pernah sekali waktu dia tidak tidur selama 24 jam. Lingkar matanya menghitam dan wajahnya pucat pasi. Aku langsung membawanya ke dokter, dia hanya memberi kami obat tidur dan beberapa obat penenang. Lalu dia berkata kalau ini hanya gejala insomnia biasa.



Berhari-hari setelah itu istriku tidak lagi insomnia berkat obat tidur yang dia minum sebelum malam. Tapi ada yang berubah juga darinya. Sinta sekarang makin pelupa. Dia lupa hal hal kecil seperti lupa mematikan lampu, lupa kalau sedang memasak air bahkan lupa meninggalkan setrika begitu saja menyala. Rumah kami hampir saja kebakaran kalau saja kedua anak kembarku tidak memadamkan meja setrika yang terbakar, sementara sinta sedang enak meminum teh di serambi rumah.



Aku membawanya ke dokter sekali lagi dan dokter bilang jika sinta terkena Short term memory lost. Penyakit lupa sementara. Dokter bilang jika sinta harus berhenti meminum obat tidur. Tapi itu berarti dia harus kembali insomnia lagi. Aku berfikir keras malam itu. Pada akhirnya aku membiarkannya tetap meminum obat tidur itu. Pilihan yang sulit, tapi kurasa itu lebih baik daripada ia terus terusan tidak tidur.



Hal itu bukan begitu saja kulakukan. Membiarkannya minum obat itu berarti aku mesti selalu mengingatkannya akan hal apapun. Jika aku sedang bekerja, aku hampir setiap jam menelpon nya untuk bertanya keadaan. Apa rana dan rani sudah pulang? Apa dia sedang memasak air? Apa dia sedang menyetrika? Apa dia sedang meng-oven sesuatu? Banyak hal yang kutanyakan, meski sangat melelahkan tapi ini cara satu satunya.



Sekali waktu aku pernah menghubunginya, aku sedang keluar kota saat itu, aku menghubunginya lewat telepon hotel. Aku bertanya rentetan hal kecil seperti biasa, tapi yang dia jawab justru mengagetkanku. “Maaf ini siapa?”, aku terkekeh dan bertanya apakah rana dan rani sudah pulang. Dia diam sebentar sampai akhirnya kembali bertanya “Siapa rana dan rani?”. Jujur aku sedang lelah sekali hari itu dan suasana hatiku sedang tidak enak, jadi aku membentak sinta dan kukatakan aku sedang tidak ingin bercanda. Dia malah terkekeh “Aku serius, anda ini siapa? Siapa pula rana-rani?”.



Aku langsung menutup telepon dengan penuh amarah dan akhirnya aku tertidur. Besoknya aku mencoba menghubunginya dengan ponselku tapi seharian ini tidak ada yang diangkat satupun panggilangku. Aku semakin khawatir.



Sore itu, aku sedang makan di kedai bersama kolegaku, kami masih diluar kota. Kami menonton televisi dan melihat breaking news. Terjadi pembantaian keji di daerah tempat tinggalku, aku terdiam menyaksikan. Karena setahuku lingkungan tempat tinggal kami sangat aman dan nyaman.



Seorang ibu membunuh kedua anak kandungnya. Aku melihat rumahku di keliling garis polisi dan tetangga tetangga yang ku kenal berkerumun menyaksikan apa yang sedang terjadi. Istriku di seret paksa oleh tiga orang polisi, sementara ia terus berteriak “mereka bukan anakku-bukan anakku. Mereka pencuri kecil yang sengaja masuk!!! Makan makanan dari kulkas ku dan duduk seenaknya di sofaku. Jadi aku membunuhnya!!” sinta terus meronta. Aku terperangah. Ternyata sinta sudah benar-benar lupa.

 
biz.