Jumat, 01 Juni 2018

Aku mendengar hujan




Aku mendengar hujan, yang datang malah kerinduan. Setiap menit kuhabiskan di samping sebuah jendela yang terus-terusan kejatuhan tampias hujan, mendekap lututku sendiri. Mengkhayalkan bagaimana di hari terang, kita jalan-jalan berdua –kamu memegangi es krim vanilla yang tidak berhenti menetes ke tangan. Begitu hangat dan mungkin itu juga penyebab kenapa es krimnya meleleh begitu cepat.

Aku menangkupkan tangan ke mug besar di meja kecil depanku, barusan ibu membuatkan teh hangat. Asap tipisnya membumbung di mulut mug ketika ku angkat. Entah halusinasi atau bukan, aku bisa melihatmu di situ di kumpulan asap tipis tehku, tersenyum dan berkata ‘jika kita akan bersama selamanya’. Kalimat yang begitu sederhana –yang biasanya ada dalam film-film bertema cinta. Tapi maknanya tidak sesederhana itu. Begitu rumit, atau hanya aku saja yang berusaha membuatnya kelihatan begitu rumit.

Di dalam kalimat itu ada banyak hal yang tidak disebutkan, atau memang sengaja tidak disebutkan. Seperti sampai kapan?, ‘selamanya’ itu sampai kapan?. Lalu mulai kapan, apakah itu berlaku semenjak kamu mengatakannya? jika memang begitu, kenapa kamu meninggalkanku sendirian. Petir menggelegar dan membuyarkan lamunanku. Ibu terlonjak dari sofanya dan segera mematikan televisi. Dia mengatakan akan pergi tidur duluan, karena ini sudah hampir sepuluh malam.

Dia menganjurkanku untuk tidur, tetapi aku hanya mengangguk tanpa memandang wajahnya yang mungkin tampak begitu khawatir. Ibu mematikan beberapa lampu termasuk lampu ruang tamu tempatku berada, seperti paksaan agar segera tidur karena besok pagi aku mesti berangkat bekerja. Beberapa jurus kemudian aku sudah berada di kasur dan berusaha memejamkan mata. Lalu kau terkulai di sampingku, mendesah dan mulai mengeluh tentang harimu. Bagaimana sikap bosmu hari ini, pekerjaan menumpuk, rekan kerja yang tidak bisa di andalkan lalu kau ketinggalan kereta lagi karena terlalu sibuk berbicara dengan perempuan paruh baya di peron. Aku hanya tersenyum dan sesekali menimpali. Lalu kita akan tertidur jika waktu sudah larut sekali.

Aku lagi-lagi kesiangan, jam weker sudah tergeletak di lantai saat aku terbangun. Aku mandi, berpakaian, masak lalu makan dan pamit kepada ibu. Aku mengendarai mobilku sendiri, melewati jalanan komplek yang benar-benar familiar sejak aku kecil. Aku menikung di samping sebuah taman kecil dengan banyak tanaman perdu dan beberapa ayunan di tengah-tengah taman. Di sana kita bertemu. Aku sedang duduk di sebuah bangku panjang sendirian, memikirkan kata-kata ibu dan ayah tentang anjuran berumah tangga dan aku masih begitu ragu. Aku masih merasa belum begitu siap menjadi seorang suami sekaligus ayah. Aku masih ingin menghabiskan masa mudaku. Lalu kau datang dan duduk di sebelah tanpa pikir panjang. Mencolek pundakku dan ketika aku menoleh, kau malah tersenyum lebar, lalu berkata jika cuaca hari ini begitu hangat dan kau suka kehangatan. Mengatakan jika kau suka pohon beringin yang tepatnya mengelilingi taman itu. Lalu kau semakin antusias bercerita tentang semua, benar-benar semua.

Itulah permulaan yang mengawali semua perubahan. Beberapa tahun kemudian kita menikah dan hidup bahagia seperti kebanyakan ‘happy ending’ dalam drama, hanya jenis dramaku adalah yang berbeda. Awalnya bahagia dan berakhir menyedihkan. Kamu terhantam kereta saat pulang bekerja, setelah berusaha menolong perempuan paruh baya yang biasa kau ajak bicara. Aku begitu menyesal karena selalu tidak bisa menjemputmu pulang karena permasalahan jam kerjaku yang waktu pulangnya begitu malam. Seharusnya aku keluar dari pekerjaan itu setelah menikah denganmu, atau seharusnya kau tidak perlu bekerja. Atau semestinya aku tidak pernah bertemu denganmu agar rasanya tidak sesakit ini, tiap kali hujan.


Karena di hari pemakamanmu, hujan turun begitu deras. Petir menyambar pohon jambu batu hingga itu terbelah dua dan para pemanggul keranda kaget dan menjatuhkanmu dari keranda. Aku harus melihatmu jatuh ke lubang kuburmu dengan cara berguling-guling. Aku melihat wajahmu yang hancur oleh tabrakan itu. Aku meringkuk di tanah dan berdoa agar tuhan mau menyambarkan petirnya padaku.

...

Aku tidak pernah menyesali hal itu, bertemu denganmu. Yang aku sesali hanya, aku mesti kehilanganmu.

Berkas yang tertinggal





Aku duduk di peron, memperhatikan petugas tiket masih begitu sibuk –memperhatikan ibu-ibu yang mondar-mandir kehilangan arlojinya atau mungkin malah tertinggal di kereta, tapi keretanya sudah melaju kembali. Kurasa ibu itu memang sudah kehilangan arlojinya sekarang. Aku duduk di peron lima. Kurang tahu juga ini bertujuan kemana atau memang aku sengaja melupakannya. Aku duduk di sini karena waktu itu kita bertemu di sini, jam segini bahkan mungkin detik ini. Aku duduk di sini karena waktu itu aku ketinggalan kereta ke bogor dan kamu datang beberapa saat kemudian dan mengeluh hal yang sama.



Kamu duduk di sebelahku, mengecek arloji beberapa kali, mengecek ponsel beberapa kali. Mendesah lalu kamu menoleh padaku “Kau pasti tidak tahu yang baru saja aku alami” kamu begitu yakin aku akan terkejut. Tapi aku tersenyum, aku bercerita bagaimana pagi itu aku kesiangan dan lupa memakai kaus kaki karena terburu-buru. Hari itu ada meeting pagi dan aku lupa bawa berkas-berkas yang kuperlukan. Sementara aku sudah terlanjur membeli tiket. Ini seperti neraka dan neraka lainnya –aku memilih berangkat ke kantor walau tidak bawa berkas, setidaknya tidak telat. Tapi aku justru malah ketinggalan kereta dan mesti menunggu sekitar tiga puluh menit lagi.

                                               

Aku mungkin bisa saja menyuruh seseorang untuk membawakan berkasku ke sini, tapi menyuruh siapa?. Aku hanya tinggal sendiri. Atau aku harus pulang berkilo-kilo jauhnya mengambil berkas dan kembali ke sini hanya untuk ketinggalan kereta lagi. Setelah ku cerita begitu kamu malah tertawa. Kamu tidak jadi bercerita, Kamu menggenggam tanganku “apa aku bisa menjadi seseorang yang membawakan berkasmu nanti? Jika itu ketinggalan lagi” kamu tersenyum.



Begitu singkat dan aku tidak perlu bercerita bagaimana hal itu berjalan dengan amat sempurnanya. Kami pacaran, menikah, pindah ke apartemen yang lebih luas. Membeli perabot-perabot baru, mempersiapkan tabungan untuk si kecil. Berlibur bersama, membeli rumah baru, menyicil mobil yang kamu idam-idamkan. Terlalu banyak untuk di sebutkan.



Aku duduk di peron, karena pagi itu aku mesti mengadakan meeting dan lagi-lagi kesiangan –lagi-lagi juga berkas ketinggalan. Aku menelponmu dan meminta tolong untuk membawakan berkasku. Aku menunggu hampir dua puluh menit sampai akhirnya seseorang menelpon, tadinya kupikir kamu. Tapi itu nomor asing dan aku mengangkatnya. Dia polisi lalu lintas, memberitahuku bahwa kamu mengalami kecelakaan saat menuju ke sini.



...



Aku duduk di peron memperhatikan seorang pengamen yang masih saja ngotot menyanyi di depan nenek-nenek, kurasa nenek itu tuli. Aku memperhatikan gelombang awan yang mengepul di angkasa. Aku melihat kereta berhenti dan pergi. Aku melihat jam besar sesekali, berputar dari satu waktu ke waktu lain. Dari setiap yang kuperhatikan, terkadang aku melihatmu. Datang tergopoh-gopoh lalu duduk disebelahku, mendesah “Kau pasti tidak tahu yang baru saja aku alami”  kamu tersenyum.

Kamu




Wajahmu, lesung
Aku terperosok dan dihantam alu
Melebur perasaanku

Pandanganmu, palung
Aku tercebur dan tenggelam
Jiwaku luruh lalu karam

Senyummu, taman
Bebungaan bermekaran
Aku berbisik di angin tentang harapan

Dirimu, bulan
Kemanapun aku berjalan
Selalu kelihatan

Diriku jelaga
Kau hapus lama-lama
Binasa

 

 
biz.