Aku mendengar hujan, yang datang
malah kerinduan. Setiap menit kuhabiskan di samping sebuah jendela yang
terus-terusan kejatuhan tampias hujan, mendekap lututku sendiri. Mengkhayalkan
bagaimana di hari terang, kita jalan-jalan berdua –kamu memegangi es krim
vanilla yang tidak berhenti menetes ke tangan. Begitu hangat dan mungkin itu juga penyebab kenapa es krimnya meleleh
begitu cepat.
Aku menangkupkan tangan ke mug
besar di meja kecil depanku, barusan ibu membuatkan teh hangat. Asap tipisnya
membumbung di mulut mug ketika ku angkat. Entah halusinasi atau bukan, aku bisa
melihatmu di situ di kumpulan asap tipis tehku, tersenyum dan berkata ‘jika kita
akan bersama selamanya’. Kalimat yang begitu sederhana –yang biasanya ada dalam
film-film bertema cinta. Tapi maknanya tidak sesederhana itu. Begitu rumit,
atau hanya aku saja yang berusaha membuatnya kelihatan begitu rumit.
Di dalam
kalimat itu ada banyak hal yang tidak disebutkan, atau memang sengaja tidak
disebutkan. Seperti sampai kapan?, ‘selamanya’ itu sampai kapan?. Lalu mulai
kapan, apakah itu berlaku semenjak kamu mengatakannya? jika memang begitu,
kenapa kamu meninggalkanku sendirian. Petir menggelegar dan membuyarkan
lamunanku. Ibu terlonjak dari sofanya dan segera mematikan televisi. Dia
mengatakan akan pergi tidur duluan, karena ini sudah hampir sepuluh malam.
Dia menganjurkanku untuk tidur,
tetapi aku hanya mengangguk tanpa memandang wajahnya yang mungkin tampak begitu khawatir. Ibu mematikan beberapa lampu termasuk
lampu ruang tamu tempatku berada, seperti paksaan
agar segera tidur karena besok pagi aku mesti berangkat bekerja. Beberapa jurus
kemudian aku sudah berada di kasur dan berusaha memejamkan mata. Lalu kau
terkulai di sampingku, mendesah dan mulai mengeluh tentang harimu. Bagaimana
sikap bosmu hari ini, pekerjaan menumpuk, rekan kerja yang tidak bisa di
andalkan lalu kau ketinggalan kereta lagi karena terlalu sibuk berbicara dengan
perempuan paruh baya di peron. Aku hanya tersenyum dan sesekali menimpali. Lalu
kita akan tertidur jika waktu sudah larut sekali.
Aku lagi-lagi kesiangan, jam
weker sudah tergeletak di lantai saat aku terbangun. Aku mandi, berpakaian,
masak lalu makan dan pamit kepada ibu. Aku mengendarai mobilku sendiri,
melewati jalanan komplek yang benar-benar familiar sejak aku kecil. Aku
menikung di samping sebuah taman kecil dengan banyak tanaman perdu dan beberapa
ayunan di tengah-tengah taman. Di sana kita bertemu. Aku sedang duduk di sebuah
bangku panjang sendirian, memikirkan kata-kata ibu dan ayah tentang anjuran
berumah tangga dan aku masih begitu ragu. Aku masih merasa belum begitu siap
menjadi seorang suami sekaligus ayah. Aku masih ingin menghabiskan masa mudaku.
Lalu kau datang dan duduk di sebelah tanpa pikir panjang. Mencolek pundakku dan
ketika aku menoleh, kau malah tersenyum lebar, lalu berkata jika cuaca hari ini
begitu hangat dan kau suka kehangatan. Mengatakan jika kau suka pohon beringin
yang tepatnya mengelilingi taman itu. Lalu kau semakin antusias bercerita
tentang semua, benar-benar semua.
Itulah permulaan yang mengawali
semua perubahan. Beberapa tahun kemudian kita menikah dan hidup bahagia seperti
kebanyakan ‘happy ending’ dalam drama, hanya jenis dramaku adalah yang berbeda.
Awalnya bahagia dan berakhir menyedihkan. Kamu terhantam kereta saat pulang
bekerja, setelah berusaha menolong perempuan paruh baya yang biasa kau ajak
bicara. Aku begitu menyesal karena selalu tidak bisa menjemputmu pulang karena
permasalahan jam kerjaku yang waktu pulangnya begitu malam. Seharusnya aku
keluar dari pekerjaan itu setelah menikah denganmu, atau seharusnya kau tidak
perlu bekerja. Atau semestinya aku tidak pernah bertemu denganmu agar rasanya
tidak sesakit ini, tiap kali hujan.
Karena di hari pemakamanmu, hujan
turun begitu deras. Petir menyambar pohon jambu batu hingga itu terbelah dua
dan para pemanggul keranda kaget dan menjatuhkanmu dari keranda. Aku harus
melihatmu jatuh ke lubang kuburmu dengan cara berguling-guling. Aku melihat
wajahmu yang hancur oleh tabrakan itu. Aku meringkuk di tanah dan berdoa agar tuhan
mau menyambarkan petirnya padaku.
...
Aku tidak pernah menyesali hal
itu, bertemu denganmu. Yang aku sesali hanya, aku mesti kehilanganmu.




