Jumat, 01 Juni 2018

Berkas yang tertinggal





Aku duduk di peron, memperhatikan petugas tiket masih begitu sibuk –memperhatikan ibu-ibu yang mondar-mandir kehilangan arlojinya atau mungkin malah tertinggal di kereta, tapi keretanya sudah melaju kembali. Kurasa ibu itu memang sudah kehilangan arlojinya sekarang. Aku duduk di peron lima. Kurang tahu juga ini bertujuan kemana atau memang aku sengaja melupakannya. Aku duduk di sini karena waktu itu kita bertemu di sini, jam segini bahkan mungkin detik ini. Aku duduk di sini karena waktu itu aku ketinggalan kereta ke bogor dan kamu datang beberapa saat kemudian dan mengeluh hal yang sama.



Kamu duduk di sebelahku, mengecek arloji beberapa kali, mengecek ponsel beberapa kali. Mendesah lalu kamu menoleh padaku “Kau pasti tidak tahu yang baru saja aku alami” kamu begitu yakin aku akan terkejut. Tapi aku tersenyum, aku bercerita bagaimana pagi itu aku kesiangan dan lupa memakai kaus kaki karena terburu-buru. Hari itu ada meeting pagi dan aku lupa bawa berkas-berkas yang kuperlukan. Sementara aku sudah terlanjur membeli tiket. Ini seperti neraka dan neraka lainnya –aku memilih berangkat ke kantor walau tidak bawa berkas, setidaknya tidak telat. Tapi aku justru malah ketinggalan kereta dan mesti menunggu sekitar tiga puluh menit lagi.

                                               

Aku mungkin bisa saja menyuruh seseorang untuk membawakan berkasku ke sini, tapi menyuruh siapa?. Aku hanya tinggal sendiri. Atau aku harus pulang berkilo-kilo jauhnya mengambil berkas dan kembali ke sini hanya untuk ketinggalan kereta lagi. Setelah ku cerita begitu kamu malah tertawa. Kamu tidak jadi bercerita, Kamu menggenggam tanganku “apa aku bisa menjadi seseorang yang membawakan berkasmu nanti? Jika itu ketinggalan lagi” kamu tersenyum.



Begitu singkat dan aku tidak perlu bercerita bagaimana hal itu berjalan dengan amat sempurnanya. Kami pacaran, menikah, pindah ke apartemen yang lebih luas. Membeli perabot-perabot baru, mempersiapkan tabungan untuk si kecil. Berlibur bersama, membeli rumah baru, menyicil mobil yang kamu idam-idamkan. Terlalu banyak untuk di sebutkan.



Aku duduk di peron, karena pagi itu aku mesti mengadakan meeting dan lagi-lagi kesiangan –lagi-lagi juga berkas ketinggalan. Aku menelponmu dan meminta tolong untuk membawakan berkasku. Aku menunggu hampir dua puluh menit sampai akhirnya seseorang menelpon, tadinya kupikir kamu. Tapi itu nomor asing dan aku mengangkatnya. Dia polisi lalu lintas, memberitahuku bahwa kamu mengalami kecelakaan saat menuju ke sini.



...



Aku duduk di peron memperhatikan seorang pengamen yang masih saja ngotot menyanyi di depan nenek-nenek, kurasa nenek itu tuli. Aku memperhatikan gelombang awan yang mengepul di angkasa. Aku melihat kereta berhenti dan pergi. Aku melihat jam besar sesekali, berputar dari satu waktu ke waktu lain. Dari setiap yang kuperhatikan, terkadang aku melihatmu. Datang tergopoh-gopoh lalu duduk disebelahku, mendesah “Kau pasti tidak tahu yang baru saja aku alami”  kamu tersenyum.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.