Aku duduk di peron, memperhatikan petugas
tiket masih begitu sibuk –memperhatikan ibu-ibu yang mondar-mandir kehilangan
arlojinya atau mungkin malah tertinggal di kereta, tapi keretanya sudah melaju
kembali. Kurasa ibu itu memang sudah kehilangan arlojinya sekarang. Aku duduk
di peron lima. Kurang tahu juga ini bertujuan kemana atau memang aku sengaja
melupakannya. Aku duduk di sini karena waktu itu kita bertemu di sini, jam
segini bahkan mungkin detik ini. Aku duduk di sini karena waktu itu aku ketinggalan
kereta ke bogor dan kamu datang beberapa saat kemudian dan mengeluh hal yang
sama.
Kamu duduk di sebelahku, mengecek arloji
beberapa kali, mengecek ponsel beberapa kali. Mendesah lalu kamu menoleh padaku
“Kau pasti tidak tahu yang baru saja aku alami” kamu begitu yakin aku akan
terkejut. Tapi aku tersenyum, aku bercerita bagaimana pagi itu aku kesiangan
dan lupa memakai kaus kaki karena terburu-buru. Hari itu ada meeting pagi dan
aku lupa bawa berkas-berkas yang kuperlukan. Sementara aku sudah terlanjur
membeli tiket. Ini seperti neraka dan neraka lainnya –aku memilih berangkat ke
kantor walau tidak bawa berkas, setidaknya tidak telat. Tapi aku justru malah
ketinggalan kereta dan mesti menunggu sekitar tiga puluh menit lagi.
Aku mungkin bisa saja menyuruh seseorang
untuk membawakan berkasku ke sini, tapi menyuruh siapa?. Aku hanya tinggal
sendiri. Atau aku harus pulang berkilo-kilo jauhnya mengambil berkas dan
kembali ke sini hanya untuk ketinggalan kereta lagi. Setelah ku cerita begitu
kamu malah tertawa. Kamu tidak jadi bercerita, Kamu menggenggam tanganku “apa
aku bisa menjadi seseorang yang membawakan berkasmu nanti? Jika itu ketinggalan
lagi” kamu tersenyum.
Begitu singkat dan aku tidak perlu
bercerita bagaimana hal itu berjalan dengan amat sempurnanya. Kami pacaran,
menikah, pindah ke apartemen yang lebih luas. Membeli perabot-perabot baru,
mempersiapkan tabungan untuk si kecil. Berlibur bersama, membeli rumah baru,
menyicil mobil yang kamu idam-idamkan. Terlalu banyak untuk di sebutkan.
Aku duduk di peron, karena pagi itu aku
mesti mengadakan meeting dan lagi-lagi kesiangan –lagi-lagi juga berkas
ketinggalan. Aku menelponmu dan meminta tolong untuk membawakan berkasku. Aku
menunggu hampir dua puluh menit sampai akhirnya seseorang menelpon, tadinya
kupikir kamu. Tapi itu nomor asing dan aku mengangkatnya. Dia polisi lalu
lintas, memberitahuku bahwa kamu mengalami kecelakaan saat menuju ke sini.
...
Aku duduk di peron memperhatikan seorang
pengamen yang masih saja ngotot menyanyi di depan nenek-nenek, kurasa nenek itu
tuli. Aku memperhatikan gelombang awan yang mengepul di angkasa. Aku melihat
kereta berhenti dan pergi. Aku melihat jam besar sesekali, berputar dari satu
waktu ke waktu lain. Dari setiap yang kuperhatikan, terkadang aku melihatmu.
Datang tergopoh-gopoh lalu duduk disebelahku, mendesah “Kau pasti tidak tahu
yang baru saja aku alami” kamu
tersenyum.


0 komentar:
Posting Komentar