Jumat, 17 Mei 2024

Helaian rambut

 

Terkadang aku merasa sudah sangat tua, padahal umurku baru mendekati kepala 3. Aku bisa merasa seperti itu karena setiap hari kurasa rambutku kian menipis. Tiap kali aku menyapu lantai aku selalu menemukan bahwa helaian rambutku yang jatuh malah lebih banyak dari debu-debu di lantai. Aku ingin botak saja kalau sudah begini.

 

...

 

Lalu akhir-akhir ini, aku sering mendengar kecipak air di kamar mandi kontrakan. Aku tinggal di kontrakan sepetak dengan kamar mandi luar yang di gunakan bersama. Dari sederet kamar kontrakan, letak kamarku paling ujung belakang persis sebelah kamar mandi. Ada beberapa keuntungan berada dekat kamar mandi, pertama kita tidak perlu jauh-jauh berjalan jika kebelet buang hajat lalu kedua, aku selalu dapat giliran pertama ketika mandi pagi. Walau kadang masih ada penghuni kontrakan yang bangun lebih pagi. Namun intinya aku tidak bakal dapat urutan paling belakang jika mengantri untuk mandi.

 

Beberapa hari ini aku sering terbangun di tengah malam karena suara kecipak air. Seperti suara langkah kaki yang berjalan di genangan. Tiap pagi juga aku menyadari jika rambutku mungkin berjatuhan ketika mandi dan menyumbat penutup saluran air. Aku selalu membersihkannya dulu sebelum mandi. Mungkin itu lah penyebab kenapa kamar mandi selalu tergenang air. Juga, aku adalah orang yang mandi paling malam dari seluruh penghuni kontrakan di sini. Jadi sudah pasti itu rambutku. Tapi pertanyaannya adalah, kenapa pasti setiap jam 2 pagi selalu ada kecipak air. Selalu jam 2.

 

Awalnya aku hanya berfikir jika mungkin tetanggaku yang kebelet hajat malam-malam. Atau bisa juga mengambil wudhu untuk solat tahajud. Namun kenapa orang-orang itu sama sekali tidak mau membersihkan penutup saluran airnya. Kalau ia tahu lantainya tergenang. Aku tidak mau ambil pusing dan berusaha mengabaikan hal itu. Karena tinggal di kontrakan berderet dengan kamar mandi bersama, itu berarti kita harus banyak bertoleransi terhadap kepentingan banyak orang masing-masing. Aku hanya merasa terganggu saja, karena harus terbangun setiap jam 2 pagi, padahal aku baru tidur 3 jam yang lalu.

Rasa lelah yang bercampur kantuk akhirnya membuatku merasa harus menegur orang ini. Karena sudah hampir seminggu kubiarkan. Kenapa sih dia tidak mau membersihkan sumbatan lantainya dulu, baru dia menuntaskan urusannya di kamar mandi. Aku mengintip lewat kaca jendela. Kontrakan kami letter L dengan posisi kamar kontrakan menghadap utara, sedangkan kamar-kamar mandi menghadap ke arah barat.

 

Jadi saat aku mengintip jendela dan melihat seseorang menunggu di depan pintu kamar mandi yang tertutup, aku cuma bisa liat punggungnya saja. Tinggi besar, rambutnya gondrong sepunggung, awut-awutan. Seluruh tubuhnya berbulu seperti gorila, tangannya terbuka menampakan kuku-kukunya yang panjang. Mahluk itu hampir menoleh ketika aku memutuskan berhenti mengintip. Aku kembali tidur sambil membungkus diri dengan selimut

 

Kejadian malam tadi telah kucoba untuk melupakannya. Aku sudah tahu jika sudah sepantasnya ada hal begituan di kontrakan berderet, itu sudah lumrah.

 

...

 

Aku semakin muak dengan helaian rambut yang makin hari makin banyak ketika ku sapu, jadi aku membotaki kepalaku hari ini. Dengan botaknya rambutku, tidak bakal ada lagi kamar mandi yang menggenang dan tidak bakal ada lagi suara kecipak malam hari.

 

Pukul 2 pagi ketika kulirik jam dinding, suara kecipak lagi. Aku sudah tidak kuat, lelah bercampur kesal. Aku berlari membuka pintu dan melihat kamar mandi terbuka. Suara kecipak itu berhenti. Aku masuk ke kamar mandi, penutup saluran tersumbat lagi oleh gumpalan rambut. Seseorang menggeram di belakangku. Tapi ketika aku menoleh, tidak ada siapapun. Di gerbang masuk kontrakan yang amat jauh, aku bisa melihat seseorang hitam tinggi dengan gigi gading yang mencuat di atas dan bawah bibirnya. Matanya merah lalu sesaat sebelum aku memutuskan untuk berlari ke kamar, mahluk itu lenyap. Bulu kudukku masih merinding ketika aku menutup pintu kamar dan bersedekap di belakang pintu.

 

Aku memperhatikan lantai yang kembali kotor oleh helaian rambut. Bukankah kepalaku sudah botak. Helaian itu semakin banyak dan ketika aku mengikuti kemana asalnya, aku sampai di depan lemariku. Aku membuka pintu lemari perlahan. Sesuatu menggeram tepat di atasku, aku mendongak –dia di situ sedang duduk mengayun-ayunkan kaki dan lidahnya yang menjuntai keluar dari sela-sela gigi gadingnya.

 

Aku rasa tidak perlu lagi mempermasalahkan kecipakan air di malam hari.

Lubang Intip

 


Ada lima kejadian aneh yang baru-baru ini kualami. Yang pertama, karena aku baru saja pindah apartemen dan harus bekerja lembur sampai malam. Aku belum sempat membongkar barang-barang di kardus. Aku hanya membuka kotak pakaian dan itu juga belum semuanya dikeluarkan. Pulang lembur malam itu aku langsung terhenyak di kasur dan paginya barang-barangku berserakan di lantai. Seperti ada yang mengobrak-abrik kardusnya. 


Ketika aku menanyakannya pada resepsionis apakah ada seseorang yang masuk ke kamarku, si resepsionis dengan raut wajah gusar berkata jika tidak mungkin ada hal seperti itu. “Jika tuan ingin pindah ke kamar lain, silahkan tunggu 1x24 jam” dia tersenyum. Mendengar kata-kata itu membuatku kesal karena harus menunggu. Ketika berjalan menjauh dari meja resepsionis, aku bisa mendengar sayup-sayup, si resepsionis bergunjing dengan teman di sebelahnya. Kalau aku adalah tipikal pelanggan yang senang gonta-ganti kamar agar tidak ketahuan cewe-cewenya, lalu  teman sebelahnya mulai cekikikan "Womanizer nggak bermodal". ‘Sialan, mereka pikir aku bohong’.

 

Aku mengambil cuti dadakan karena harus membereskan kamar. Keanehan kedua, dari sekian banyak kardus pindahanku, ada satu yang masih tertutup rapat –seolah tidak tersentuh. Kardus yang isi nya guci abu kremasi ibu. Apa mungkin ibu datang?. Tapi kenapa dia harus memberantaki kamarku. Dia adalah perempuan yang justru paling perduli terhadap kebersihan kamar. Keanehan ketiga datang di malam itu, karena begitu lelah merapikan kamar seharian –yang padahal rencananya akan ku rapikan perlahan-lahan. Aku langsung merebahkan badan lalu terlelap, namun aku terbangun karena seseorang mengetuk pintu.


 

Awalnya aku ragu untuk membukanya, jadi kulihat lewat lubang intip dulu. Ada seseorang di depan pintuku. Dia memunggungi pintu tapi dari gaun putih dan rambut sepunggungnya, aku langsung curiga. Lalu dia mulai menangis, tangisannya terasa begitu dekat di telingaku. Kemudian dia mulai terkikik, terkikik dan lama kelamaan dia mengekeh. Sambil memunggungi, dia berjalan mundur perlahan ke dekat pintuku dan tepat sebelum dia berbalik –aku berlari, melompat ke kasur dan membungkus diri dengan selimut. Aku mengambil headset dengan cepat dan memutar lagu di ponselku sambil memejam mata. Namun aku bersumpah sebelum lagu kuputar, aku masih mendengar sesuatu di samping kasurku berkata “Bolehkah aku di sini?”.

 

Entah bagaimana pada akhirnya aku bisa tidur, paginya bangun dan mendengar shower kamar mandiku mengucur. Keanehan keempat, aku berlari dan membuka pintu kamar mandi lalu seketika shower berhenti mengucur. Gaun putih melayang tiba-tiba jatuh. Aku sempat takut apakah harus memungutnya, tapi aku berusaha memberanikan diri. Aku memungut gaun putih kusam dan basah itu. Kemudian membuangnya di perjalanan ke kantor.

 

Aku mengurungkan niatku pindah kamar di karenakan tidak ada waktu membungkus dan membongkar ulang barang-barangku. Akhir-akhir ini kantor sangat sering menyuruhku lembur. Jadi waktu istirahat di apartemen sangatlah terbatas. Keanehan kelima adalah barusan ketika aku pulang lembur. Mataku yang lelah kembali segar karena melihat gaun putih kusam itu berada di atas kasurku. Aku masih berdiri di belakang pintu apartemen dan tidak berani beranjak. Lalu ada suara ketukan pintu di belakangku. Kucoba mengintip perlahan, perempuan itu tersenyum lebar lalu tertawa menganga sehingga ujung bibirnya sampai ke daun telinga. Aku perlahan mundur dari lubang intip, “Jadi, Bolehkah aku di sini?” suaranya tepat di belakangku.

Rumah kosong itu

 

Aku pernah lewat depan rumah tua itu. Tidak ada apa-apa, hanya rumah kosong biasa yang memang sudah usang dan sawang di mana-mana. Pintunya menggantung timpang dan aku bisa melihat lorong ruang tamunya yang samar. Beberapa kaca jendela sudah pecah dan bercak-bercak bekas bola kastinya masih nampak. Sepertinya anak-anak butuh beberapa lemparan ke jendela sampai akhirnya kaca-kaca itu berlubang.

 

Ada sebuah pohon jambu air yang besar di halamannya. Ibu pernah berkata jika jangan pernah bermain di bawah pohon jambu air, karena banyak ulat bulunya. Itu benar adanya, andin salah satu teman sekolahku pernah mencari putik-putik jambu air disekitaran pohon, untuknya bermain masak-masakan. Tapi naas, dia malah kejatuhan beberapa ulat bulu dan hasilnya sekujur badannya gatal-gatal. Keesokan harinya ia tidak masuk sekolah.

 

Banyak anak di sekolahku bilang jika rumah itu berhantu. Ada yang bilang jika pernah melihat sebuah tangan merangkak keluar dari lorong gelap pintu yang menggantung itu. Hanya tangan saja, tanpa tubuh. Ada yang bilang juga mereka sering melihat sesorang berdiri di balik kaca jendela yang berlubang itu. Seorang perempuan putih pucat dan rambut menutupi kiri wajahnya yang menyeringai. Ada juga yang berkata jika kamu berdiri di bawah pohon jambunya dan memohon sesuatu, keesokannya kamu akan mendapatkan hal itu.

 

Aku bukan orang yang terlalu percaya hantu, juga bukan anak kecil yang percaya keajaiban-keajaiban seperti dalam dongeng-dongeng. Aku sudah kelas enam, come on. Tidak mungkin hal seperti itu aku bisa percayai.

 

Namun malam itu kegelisahanku terhadap kata-kata ‘memohon sesuatu’ mengantarkanku ke depan rumah kosong dan berdiri di halamannya. Aku berjalan ke arah pohon jambu, tidak ada apa-apa yang aneh. Rumah itu hanya lebih gelap dari biasanya karena malam dan lampu jalan tidak memberi cukup penerangan untukku melihat jelas ke dalam rumah kosong. Aku bersimpuh di bawah pohon jambu sembari mengenakan jas hujan karena takut kejatuhan ulat bulu.

 

Aku tidak mengerti konsep bagaimana cara ‘meminta’ nya. Jadi aku bersimpuh dan berbicara pada diriku sendiri “Aku ingin punya sepeda baru”. Aku menunggu sejenak, berharap sepeda baru tiba-tiba muncul di hadapanku seperti sihir ‘Genie’ nya aladdin. Namun sepertinya tidak ada apapun. Akhirnya aku pulang dengan tangan kosong. Tapi aku bersumpah ketika aku berbalik meninggalkan pohon jambu, sesuatu berkelebat keluar dari balik pintu dan melesat ke dalam rimbunan daun pohon jambu. Ada suara terkekeh setelahnya dan saat itulah aku memutuskan untuk lari pulang ke rumah.

 

Keesokannya hal yang begitu mengejutkan terjadi. Sebuah sepeda merah marun dengan stang lowrider bertengger di samping sepeda usangku. Ketika aku tanya ayah dan ibu soal sepeda itu, tidak ada yang mengaku telah membelinya. Aku tidak tahu apakah mereka bohong atau tidak. Tapi ya tuhan, hanya aku yang tahu spesifik seperti apa sepeda yang sedang ku impikan ini. Aku tidak pernah memberi tahu siapapun tentang keinginanku memiliki sepeda dengan stang lowrider. Hanya tadi malam, di bawah pohon jambu ketika aku berkata memohon sepeda sambil bersimpuh, aku berkhayal jika sepeda inilah yang aku mau.

 

Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Perasaan bahagia mengalahkan segalanya tentang keraguanku mengenai hal-hal ajaib dan ghaib. Seharian aku memakai sepeda itu keliling komplek dan memamerkannya kepada teman-temanku tanpa memberi tahu mereka sedikitpun darimana aku mendapatkannya. Sampai pada malam harinya ketika aku baru pulang dari rumah temanku dan lewat rumah kosong itu. Samar-samar aku melihat kalau ada seorang perempuan pucat di balik jendela, dia melambai kepadaku sambil menyeringai. Tapi sekarang dia tidak sendiri, di sampingnya ada seorang anak lelaki pucat yang menunjuk sepedaku “Itu punyaku”. Aku segera kabur dari situ.

 

Aku menyelimuti diri karena membayangkan perempuan bergaun putih, dengan seringainya. Lalu kenapa juga ada seorang anak kecil lain di rumah itu. Padahal menurut cerita tidak pernah sekalipun kudengar mengenai anak kecil. Tapi aku bersumpah, barusan aku dengar dari arah lemari –seseorang terkekeh. Aku mengurung diri dengan selimut. Ia terkekeh lagi “Aku mengambil sepedanya dari anak lelaki itu” suara nya parau dan lirih. Aku memejamkan mataku serapat-rapatnya. Terdengar derap langkah yang cepat “SEKARANG, ADA ANAK LAIN YANG MENGINGINKAN SEPEDA ITU” ia berbisik di telingaku.

Teropong

 

Dua hari lalu ayahku membawakan sebuah teropong binokular. Katanya ia beli di pasar loak dengan seperempat harga aslinya. Setelah punya itu, kegiatanku sepulang sekolah akhir-akhir ini kuhabiskan di depan teropong. Bisa berjam-jam aku di dekat teropong. Karena kamarku berada di lantai 2, aku bisa memantau berbagai macam hal dan melihat banyak tempat dari sini.

Walau kebanyakan jam kuhabiskan untuk memandangi Mira di kamarnya. Salah satu gadis paling cantik di sekolah. Rumahnya bersebrang jalan dan beda tiga rumah dari sini. Rasanya aku terlalu naif jika bermimpi untuk memilikinya, namun ia memang gadis tipeku sekali. Rambut hitam sepunggung, wajah bundar seputih salju dan lesung pipit di kedua pipinya. Sayang, segala bentuk kesukaanku terhadapnya hanya mentok diupayaku memandanginya lewat teropong saja.

Jangan salah sangka! Aku tidak pernah meneropong Mira ketika ia sedang mengganti pakaiannya selepas mandi atau ketika ia sedang bosan dan menarik laci mejanya –mengambil benda ‘panjang dan bergetar’. Aku bakal langsung berpaling dan menjauh dari teropong jika sudah begitu.
 
Aku hanya suka melihat ketika ia sedang menyirami tanaman di taman depan rumahnya. Aku suka bagaimana ia begitu telaten merawat bebungaan itu. Bagaimana ia memangkas batang-batang dan daun-daun bunga yang layu, lalu memberikan pupuk –aku hanya suka. Wajahnya begitu teduh dan rasanya aku ingin menjadi salah satu bunga itu. Aku juga suka memperhatikannya ketika di sore hari ia berbaring  kursi pantai sembari membaca buku.
 
Selain mira aku sering meneropong ke tempat lain, seperti persimpangan jalan ujung komplek ini yang kira-kira 400 meter dari sini. Setiap jam 2 siang, selalu ada seorang pria paruh baya berpakaian lusuh dan robek di beberapa bagian. Dia akan berada di persimpangan itu selama 5 menit dan kemudian menyebrang lalu berjalan menjauh. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia melakukan itu, padahal kadang tidak ada kendaraan lewat tapi pria itu tetap tidak menyebrang sampai jam 2 lewat 5 menit –ia kemudian menyebrang dan pergi. Itu seperti sudah menjadi ritualnya.
 
Ada juga seorang anak kecil perempuan yang hampir seharian bermain ayunan di taman, sekitar 500 meter dari rumahku. Kadang aku mempertanyakan kemana orang tuanya. Karena anak-anak yang bermain di situ selalu bersama orang tua atau pengasuhnya. Apakah kedua orang tua si anak perempuan itu tidak perduli jika anaknya di culik?
 
 
Terakhir, baru-baru ini aku memperhatikan seorang gadis yang baru pindah ke rumah di sebrangku. Tetangga baru kami adalah sepasang suami-istri yang kira-kira sebaya dengan ibu dan ayah, lalu anak gadisnya aku yakin sebaya denganku. Aku terkadang memperhatikannya lewat jendela tanpa menggunakan teropong.
 
Gadis itu cantik dan kalau di bandingkan, Mira masih tidak terlalu sempurna daripada dia. Gadis itu punya mata biru indah, rambut bob hitam mirip Minami Hamabe dan lekuk pinggul yang bagus. Aku bisa mengetahuinya karena pernah tidak sengaja aku menggunakan teropong dan melihat melalui jendela tepat saat ia hendak masuk kamar mandi. Kulitnya seputih pualam, tanpa ada bercak atau bekas goresan apapun. Aku tidak sempat melihat buah dadanya karena ia sudah membelakangi teropong ketika aku tak sengaja memantau kamarnya.
 
Aku tidak pernah menemuinya secara langsung. Aku pikir dia bersekolah di tempatku tapi ternyata tidak. Saat aku lewat depan rumahnya, aku jarang sekali melihatnya. Aku selalu berpapasan dengan ibu dan ayahnya ketika pagi berangkat sekolah. Namun aku tidak pernah melihat dia pergi sekolah. Apakah dia homeschooling?. Tetangga baru kami pernah main ke rumah untuk makan bersama sebagai perkenalan. Tapi saat itu aku sedang ada kegiatan di luar, jadi tidak sempat melihat gadis itu datang ke rumah. Aku bertanya pada ibu dan ayah, namun mereka berkata jika anak gadis itu tidak datang saat makan-makan itu.
 
Siang ini aku penasaran, aku menunggu gadis itu membuka jendelanya. Tapi tidak kunjung terjadi, lalu pintu depan rumahnya terbuka –gadis itu keluar mengenakan dress putih selutut, ia berlari ke arah persimpangan jalan. Aku bergegas menuruni tangga, keluar rumah dan membuntutinya. Aku hanya ingin berkenalan dengan dia. Baru kali ini aku merasakan keberanian yang begitu bergejolak. Ketika aku berhasil sampai ke persimpangan, tiba-tiba gadis itu hilang entah lari kemana.
 
Namun seorang pria berdiri di samping lampu merah penyebrangan, tidak tampak jelas wajahnya. Tapi aku tahu dia, lelaki paruh baya yang selalu berdiri di persimpangan selama 5 menit. Lelaki itu menoleh, yang pertama kutahu adalah dia sudah tidak hidup. Mata kirinya menggantung di samping bibir yang sudah hancur sementara lubang di kanan matanya menganga, hidungnya pun sudah tidak lagi di sana –hanya dua lubang kecil tertutupi pretelan kulit. Gigi-giginya jelas tidak tertutup bibir, menganga dan pria paruh baya itu berusaha bicara padaku sambil melambaikan tangan. Aku terduduk, kakiku terkunci dan hampir tidak bisa berkata apapun. Jantungku berdegub kencang, mataku terpaku lalu seseorang memanggilku dari kejauhan. Menyadarkanku, gadis itu berlari ke arah rumahnya sambil melambai. Aku terlepas dari sihir ketakutan dan berlari mengejar gadis itu.
 
Tapi dia bukan berlari ke arah rumahnya melainkan ke taman bermain anak-anak. Ketika aku sampai, gadis itu kembali hilang. Di sana ramai, banyak anak-anak bersama ibu atau pengasuhnya. Aku ingat ada satu anak perempuan kecil yang selalu bermain ayunan di sini. Tapi ketika aku mencari-cari di mana ayunannya, aku malah menemukan tidak ada mainan ayunan sama sekali di sini. Apakah itu berarti gadis kecil itu juga. Tiba-tiba saja pundakku terasa begitu berat lalu ketika aku mendongak, wajah pucat anak kecil dengan leher patah tepat di mukaku. Aku berjongkok dan menundukan kepalaku sampai seorang ibu memegang bahuku “kamu tidak apa-apa?”. Gadis kecil itu tidak tampak lagi.
 
Setelah serentet kejadian menakutkan itu, malamnya tetangga baru kami datang untuk makan malam bersama. Sepasang suami-istri itu lagi-lagi tidak mengajak anak mereka. Karena penasaran, aku ikut makan malam ini. Ketika di tengah percakapan mereka, aku menyela “tante, aku sering melihat anak gadismu keluar rumah. Tapi kenapa dia tidak ikut?” tepat setelah pertanyaanku, tante itu berhenti dan merenung. Ia menutupi wajahnya dan mulai terisak. Ayah memelototiku, menyuruhku makan di kamar. Aku yang tidak tahu apa-apa justru malah jengkel, kenapa aku yang kena imbasnya. Apa salahku menanyakan anak gadis seseorang di depan orang tuanya. Bukankah itu jantan.
 
Nafsu makanku hilang, aku bergegas menyalakan komputer dan terlintas di benakku untuk mencari tahu tentang pria paruh baya di persimpangan dan gadis kecil di taman. Ternyata sekitar dua tahun lalu terjadi tabrak lari di persimpangan itu, korbannya adalah seorang pria paruh baya –tubuhnya terpental dan wajahnya menghantam aspal jalan. Kemudian sekitar setahun lalu di taman itu terjadi penculikan seorang gadis kecil yang dicabuli dan kemudian dibunuh lalu mayatnya dikubur di bawah ayunan. Itu kenapa ayunannya tidak ada di taman, karena sudah dibongkar.
 
Aku mendengar derap langkah ayah ke sini, aku segera mematikan komputer. Dia membuka pintu, bersedekap tangan “apa kau tahu yang baru saja kau lakukan?”.
 
Tentu saja aku menggeleng “aku sungguh tidak bermaksud apa-apa. Aku benar-benar hanya ingin bertemu anak gadisnya karena kami jarang berpapasan, aku cuma bisa melihatnya sesekali dari jendela”
 
“Cukup dengan pertanyaan dan pernyataan gak masuk akal ini. Kau tahu, karena pertanyaanmu –dia harus kembali mengingat kenangan anaknya yang sudah lama meninggal” ayah berpaling menutup pintu, berlalu.
 
Malam, ketika kulirik jam menunjukan pukul 2 pagi –entah kenapa aku merasa ingin meraih teropong dan berjalan ke arah jendela. Di sana, di halaman rumah tetanggaku yang baru –si pria paruh baya dengan wajah hancur, gadis kecil berleher patah dan anak gadis tetangga baruku yang wajahnya pucat pasi melambai-lambai padaku. Ketika aku menyingkirkan teropongku, tidak terlihat apa-apa di sana. Ketika kugunakan teropong, mereka kini berbaris di depan halamanku, lalu kusingkirkan. Kuteropong lagi dan mereka kini di depan serambi rumahku sambil mendongak padaku dan melambai, kulempar teropong itu ke pojok kamar. 
 
Apakah ini karma karena aku sering meneropong hal yang tak harusnya kulihat. Karena pada awalnya aku memang sudah mengetahui jika teropong ini ajaib, aku bisa melihat arwah Mira yang berseliweran di rumahnya melakukan kegiatan sehari-harinya ketika ia hidup dulu. Sampai akhirnya ia meninggal beberapa tahun lalu, karena leukimia. Aku sangat menyukainya sehingga tidak bisa lepas dari bayangannya. Kugunakan teropong ini sebagai pelampiasanku atas kerinduanku pada Mira.
 
“JADI KENAPA DIBUANG TEROPONGNYA?” suara seorang perempuan yang sangat lirih di sambut ketawa anak kecil.

 

 
biz.