Aku pernah lewat depan rumah tua itu. Tidak ada apa-apa,
hanya rumah kosong biasa yang memang sudah usang dan sawang di mana-mana.
Pintunya menggantung timpang dan aku bisa melihat lorong ruang tamunya yang
samar. Beberapa kaca jendela sudah pecah dan bercak-bercak bekas bola
kastinya masih nampak. Sepertinya anak-anak butuh beberapa lemparan ke jendela
sampai akhirnya kaca-kaca itu berlubang.
Ada sebuah pohon jambu air yang besar di halamannya. Ibu
pernah berkata jika jangan pernah bermain di bawah pohon jambu air, karena
banyak ulat bulunya. Itu benar adanya, andin salah satu teman sekolahku pernah
mencari putik-putik jambu air disekitaran pohon, untuknya bermain
masak-masakan. Tapi naas, dia malah kejatuhan beberapa ulat bulu dan hasilnya
sekujur badannya gatal-gatal. Keesokan harinya ia tidak masuk sekolah.
Banyak anak di sekolahku bilang jika rumah itu berhantu. Ada
yang bilang jika pernah melihat sebuah tangan merangkak keluar dari lorong
gelap pintu yang menggantung itu. Hanya tangan saja, tanpa tubuh. Ada yang
bilang juga mereka sering melihat sesorang berdiri di balik kaca jendela yang
berlubang itu. Seorang perempuan putih pucat dan rambut menutupi kiri wajahnya
yang menyeringai. Ada juga yang berkata jika kamu berdiri di bawah pohon
jambunya dan memohon sesuatu, keesokannya kamu akan mendapatkan hal itu.
Aku bukan orang yang terlalu percaya hantu, juga bukan anak
kecil yang percaya keajaiban-keajaiban seperti dalam dongeng-dongeng. Aku sudah
kelas enam, come on. Tidak mungkin hal seperti itu aku bisa percayai.
Namun malam itu kegelisahanku terhadap kata-kata ‘memohon
sesuatu’ mengantarkanku ke depan rumah kosong dan berdiri di halamannya. Aku
berjalan ke arah pohon jambu, tidak ada apa-apa yang aneh. Rumah itu hanya
lebih gelap dari biasanya karena malam dan lampu jalan tidak memberi cukup
penerangan untukku melihat jelas ke dalam rumah kosong. Aku bersimpuh di bawah
pohon jambu sembari mengenakan jas hujan karena takut kejatuhan ulat bulu.
Aku tidak mengerti konsep bagaimana cara ‘meminta’ nya. Jadi
aku bersimpuh dan berbicara pada diriku sendiri “Aku ingin punya sepeda baru”.
Aku menunggu sejenak, berharap sepeda baru tiba-tiba muncul di hadapanku
seperti sihir ‘Genie’ nya aladdin. Namun sepertinya tidak ada apapun. Akhirnya
aku pulang dengan tangan kosong. Tapi aku bersumpah ketika aku berbalik
meninggalkan pohon jambu, sesuatu berkelebat keluar dari balik pintu dan
melesat ke dalam rimbunan daun pohon jambu. Ada suara terkekeh setelahnya dan
saat itulah aku memutuskan untuk lari pulang ke rumah.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Perasaan bahagia mengalahkan
segalanya tentang keraguanku mengenai hal-hal ajaib dan ghaib. Seharian aku
memakai sepeda itu keliling komplek dan memamerkannya kepada teman-temanku
tanpa memberi tahu mereka sedikitpun darimana aku mendapatkannya. Sampai pada
malam harinya ketika aku baru pulang dari rumah temanku dan lewat rumah kosong
itu. Samar-samar aku melihat kalau ada seorang perempuan pucat di balik
jendela, dia melambai kepadaku sambil menyeringai. Tapi sekarang dia tidak
sendiri, di sampingnya ada seorang anak lelaki pucat yang menunjuk sepedaku
“Itu punyaku”. Aku segera kabur dari situ.
Aku menyelimuti diri karena membayangkan perempuan bergaun
putih, dengan seringainya. Lalu kenapa juga ada seorang anak kecil lain di
rumah itu. Padahal menurut cerita tidak pernah sekalipun kudengar mengenai anak
kecil. Tapi aku bersumpah, barusan aku dengar dari arah lemari –seseorang terkekeh.
Aku mengurung diri dengan selimut. Ia terkekeh lagi “Aku mengambil sepedanya
dari anak lelaki itu” suara nya parau dan lirih. Aku memejamkan mataku
serapat-rapatnya. Terdengar derap langkah yang cepat “SEKARANG, ADA ANAK LAIN
YANG MENGINGINKAN SEPEDA ITU” ia berbisik di telingaku.



0 komentar:
Posting Komentar