Jumat, 17 Mei 2024

Rumah kosong itu

 

Aku pernah lewat depan rumah tua itu. Tidak ada apa-apa, hanya rumah kosong biasa yang memang sudah usang dan sawang di mana-mana. Pintunya menggantung timpang dan aku bisa melihat lorong ruang tamunya yang samar. Beberapa kaca jendela sudah pecah dan bercak-bercak bekas bola kastinya masih nampak. Sepertinya anak-anak butuh beberapa lemparan ke jendela sampai akhirnya kaca-kaca itu berlubang.

 

Ada sebuah pohon jambu air yang besar di halamannya. Ibu pernah berkata jika jangan pernah bermain di bawah pohon jambu air, karena banyak ulat bulunya. Itu benar adanya, andin salah satu teman sekolahku pernah mencari putik-putik jambu air disekitaran pohon, untuknya bermain masak-masakan. Tapi naas, dia malah kejatuhan beberapa ulat bulu dan hasilnya sekujur badannya gatal-gatal. Keesokan harinya ia tidak masuk sekolah.

 

Banyak anak di sekolahku bilang jika rumah itu berhantu. Ada yang bilang jika pernah melihat sebuah tangan merangkak keluar dari lorong gelap pintu yang menggantung itu. Hanya tangan saja, tanpa tubuh. Ada yang bilang juga mereka sering melihat sesorang berdiri di balik kaca jendela yang berlubang itu. Seorang perempuan putih pucat dan rambut menutupi kiri wajahnya yang menyeringai. Ada juga yang berkata jika kamu berdiri di bawah pohon jambunya dan memohon sesuatu, keesokannya kamu akan mendapatkan hal itu.

 

Aku bukan orang yang terlalu percaya hantu, juga bukan anak kecil yang percaya keajaiban-keajaiban seperti dalam dongeng-dongeng. Aku sudah kelas enam, come on. Tidak mungkin hal seperti itu aku bisa percayai.

 

Namun malam itu kegelisahanku terhadap kata-kata ‘memohon sesuatu’ mengantarkanku ke depan rumah kosong dan berdiri di halamannya. Aku berjalan ke arah pohon jambu, tidak ada apa-apa yang aneh. Rumah itu hanya lebih gelap dari biasanya karena malam dan lampu jalan tidak memberi cukup penerangan untukku melihat jelas ke dalam rumah kosong. Aku bersimpuh di bawah pohon jambu sembari mengenakan jas hujan karena takut kejatuhan ulat bulu.

 

Aku tidak mengerti konsep bagaimana cara ‘meminta’ nya. Jadi aku bersimpuh dan berbicara pada diriku sendiri “Aku ingin punya sepeda baru”. Aku menunggu sejenak, berharap sepeda baru tiba-tiba muncul di hadapanku seperti sihir ‘Genie’ nya aladdin. Namun sepertinya tidak ada apapun. Akhirnya aku pulang dengan tangan kosong. Tapi aku bersumpah ketika aku berbalik meninggalkan pohon jambu, sesuatu berkelebat keluar dari balik pintu dan melesat ke dalam rimbunan daun pohon jambu. Ada suara terkekeh setelahnya dan saat itulah aku memutuskan untuk lari pulang ke rumah.

 

Keesokannya hal yang begitu mengejutkan terjadi. Sebuah sepeda merah marun dengan stang lowrider bertengger di samping sepeda usangku. Ketika aku tanya ayah dan ibu soal sepeda itu, tidak ada yang mengaku telah membelinya. Aku tidak tahu apakah mereka bohong atau tidak. Tapi ya tuhan, hanya aku yang tahu spesifik seperti apa sepeda yang sedang ku impikan ini. Aku tidak pernah memberi tahu siapapun tentang keinginanku memiliki sepeda dengan stang lowrider. Hanya tadi malam, di bawah pohon jambu ketika aku berkata memohon sepeda sambil bersimpuh, aku berkhayal jika sepeda inilah yang aku mau.

 

Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Perasaan bahagia mengalahkan segalanya tentang keraguanku mengenai hal-hal ajaib dan ghaib. Seharian aku memakai sepeda itu keliling komplek dan memamerkannya kepada teman-temanku tanpa memberi tahu mereka sedikitpun darimana aku mendapatkannya. Sampai pada malam harinya ketika aku baru pulang dari rumah temanku dan lewat rumah kosong itu. Samar-samar aku melihat kalau ada seorang perempuan pucat di balik jendela, dia melambai kepadaku sambil menyeringai. Tapi sekarang dia tidak sendiri, di sampingnya ada seorang anak lelaki pucat yang menunjuk sepedaku “Itu punyaku”. Aku segera kabur dari situ.

 

Aku menyelimuti diri karena membayangkan perempuan bergaun putih, dengan seringainya. Lalu kenapa juga ada seorang anak kecil lain di rumah itu. Padahal menurut cerita tidak pernah sekalipun kudengar mengenai anak kecil. Tapi aku bersumpah, barusan aku dengar dari arah lemari –seseorang terkekeh. Aku mengurung diri dengan selimut. Ia terkekeh lagi “Aku mengambil sepedanya dari anak lelaki itu” suara nya parau dan lirih. Aku memejamkan mataku serapat-rapatnya. Terdengar derap langkah yang cepat “SEKARANG, ADA ANAK LAIN YANG MENGINGINKAN SEPEDA ITU” ia berbisik di telingaku.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.