Jumat, 17 Mei 2024

Lubang Intip

 


Ada lima kejadian aneh yang baru-baru ini kualami. Yang pertama, karena aku baru saja pindah apartemen dan harus bekerja lembur sampai malam. Aku belum sempat membongkar barang-barang di kardus. Aku hanya membuka kotak pakaian dan itu juga belum semuanya dikeluarkan. Pulang lembur malam itu aku langsung terhenyak di kasur dan paginya barang-barangku berserakan di lantai. Seperti ada yang mengobrak-abrik kardusnya. 


Ketika aku menanyakannya pada resepsionis apakah ada seseorang yang masuk ke kamarku, si resepsionis dengan raut wajah gusar berkata jika tidak mungkin ada hal seperti itu. “Jika tuan ingin pindah ke kamar lain, silahkan tunggu 1x24 jam” dia tersenyum. Mendengar kata-kata itu membuatku kesal karena harus menunggu. Ketika berjalan menjauh dari meja resepsionis, aku bisa mendengar sayup-sayup, si resepsionis bergunjing dengan teman di sebelahnya. Kalau aku adalah tipikal pelanggan yang senang gonta-ganti kamar agar tidak ketahuan cewe-cewenya, lalu  teman sebelahnya mulai cekikikan "Womanizer nggak bermodal". ‘Sialan, mereka pikir aku bohong’.

 

Aku mengambil cuti dadakan karena harus membereskan kamar. Keanehan kedua, dari sekian banyak kardus pindahanku, ada satu yang masih tertutup rapat –seolah tidak tersentuh. Kardus yang isi nya guci abu kremasi ibu. Apa mungkin ibu datang?. Tapi kenapa dia harus memberantaki kamarku. Dia adalah perempuan yang justru paling perduli terhadap kebersihan kamar. Keanehan ketiga datang di malam itu, karena begitu lelah merapikan kamar seharian –yang padahal rencananya akan ku rapikan perlahan-lahan. Aku langsung merebahkan badan lalu terlelap, namun aku terbangun karena seseorang mengetuk pintu.


 

Awalnya aku ragu untuk membukanya, jadi kulihat lewat lubang intip dulu. Ada seseorang di depan pintuku. Dia memunggungi pintu tapi dari gaun putih dan rambut sepunggungnya, aku langsung curiga. Lalu dia mulai menangis, tangisannya terasa begitu dekat di telingaku. Kemudian dia mulai terkikik, terkikik dan lama kelamaan dia mengekeh. Sambil memunggungi, dia berjalan mundur perlahan ke dekat pintuku dan tepat sebelum dia berbalik –aku berlari, melompat ke kasur dan membungkus diri dengan selimut. Aku mengambil headset dengan cepat dan memutar lagu di ponselku sambil memejam mata. Namun aku bersumpah sebelum lagu kuputar, aku masih mendengar sesuatu di samping kasurku berkata “Bolehkah aku di sini?”.

 

Entah bagaimana pada akhirnya aku bisa tidur, paginya bangun dan mendengar shower kamar mandiku mengucur. Keanehan keempat, aku berlari dan membuka pintu kamar mandi lalu seketika shower berhenti mengucur. Gaun putih melayang tiba-tiba jatuh. Aku sempat takut apakah harus memungutnya, tapi aku berusaha memberanikan diri. Aku memungut gaun putih kusam dan basah itu. Kemudian membuangnya di perjalanan ke kantor.

 

Aku mengurungkan niatku pindah kamar di karenakan tidak ada waktu membungkus dan membongkar ulang barang-barangku. Akhir-akhir ini kantor sangat sering menyuruhku lembur. Jadi waktu istirahat di apartemen sangatlah terbatas. Keanehan kelima adalah barusan ketika aku pulang lembur. Mataku yang lelah kembali segar karena melihat gaun putih kusam itu berada di atas kasurku. Aku masih berdiri di belakang pintu apartemen dan tidak berani beranjak. Lalu ada suara ketukan pintu di belakangku. Kucoba mengintip perlahan, perempuan itu tersenyum lebar lalu tertawa menganga sehingga ujung bibirnya sampai ke daun telinga. Aku perlahan mundur dari lubang intip, “Jadi, Bolehkah aku di sini?” suaranya tepat di belakangku.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.