Ada lima kejadian aneh yang baru-baru ini kualami. Yang pertama, karena aku baru saja pindah apartemen dan harus bekerja lembur sampai malam. Aku belum sempat membongkar barang-barang di kardus. Aku hanya membuka kotak pakaian dan itu juga belum semuanya dikeluarkan. Pulang lembur malam itu aku langsung terhenyak di kasur dan paginya barang-barangku berserakan di lantai. Seperti ada yang mengobrak-abrik kardusnya.
Ketika aku menanyakannya pada resepsionis apakah ada seseorang yang masuk ke kamarku, si resepsionis dengan raut wajah gusar berkata jika tidak mungkin ada hal seperti itu. “Jika tuan ingin pindah ke kamar lain, silahkan tunggu 1x24 jam” dia tersenyum. Mendengar kata-kata itu membuatku kesal karena harus menunggu. Ketika berjalan menjauh dari meja resepsionis, aku bisa mendengar sayup-sayup, si resepsionis bergunjing dengan teman di sebelahnya. Kalau aku adalah tipikal pelanggan yang senang gonta-ganti kamar agar tidak ketahuan cewe-cewenya, lalu teman sebelahnya mulai cekikikan "Womanizer nggak bermodal". ‘Sialan, mereka pikir aku bohong’.
Aku mengambil cuti dadakan karena harus membereskan kamar.
Keanehan kedua, dari sekian banyak kardus pindahanku, ada satu yang masih
tertutup rapat –seolah tidak tersentuh. Kardus yang isi nya guci abu kremasi
ibu. Apa mungkin ibu datang?. Tapi kenapa dia harus memberantaki kamarku. Dia
adalah perempuan yang justru paling perduli terhadap kebersihan kamar. Keanehan
ketiga datang di malam itu, karena begitu lelah merapikan kamar seharian –yang
padahal rencananya akan ku rapikan perlahan-lahan. Aku langsung merebahkan
badan lalu terlelap, namun aku terbangun karena seseorang mengetuk pintu.
Entah bagaimana pada akhirnya aku bisa tidur, paginya bangun
dan mendengar shower kamar mandiku mengucur. Keanehan keempat, aku berlari dan
membuka pintu kamar mandi lalu seketika shower berhenti mengucur. Gaun putih
melayang tiba-tiba jatuh. Aku sempat takut apakah harus memungutnya, tapi aku
berusaha memberanikan diri. Aku memungut gaun putih kusam dan basah itu. Kemudian membuangnya di perjalanan ke kantor.
Aku mengurungkan niatku pindah kamar di karenakan tidak ada
waktu membungkus dan membongkar ulang barang-barangku. Akhir-akhir ini kantor
sangat sering menyuruhku lembur. Jadi waktu istirahat di apartemen sangatlah
terbatas. Keanehan kelima adalah barusan ketika aku pulang lembur. Mataku yang
lelah kembali segar karena melihat gaun putih kusam itu berada di atas kasurku.
Aku masih berdiri di belakang pintu apartemen dan tidak berani beranjak. Lalu ada
suara ketukan pintu di belakangku. Kucoba mengintip perlahan, perempuan itu
tersenyum lebar lalu tertawa menganga sehingga ujung bibirnya sampai ke daun
telinga. Aku perlahan mundur dari lubang intip, “Jadi, Bolehkah aku di sini?” suaranya tepat di belakangku.



0 komentar:
Posting Komentar