Jumat, 17 Mei 2024

Helaian rambut

 

Terkadang aku merasa sudah sangat tua, padahal umurku baru mendekati kepala 3. Aku bisa merasa seperti itu karena setiap hari kurasa rambutku kian menipis. Tiap kali aku menyapu lantai aku selalu menemukan bahwa helaian rambutku yang jatuh malah lebih banyak dari debu-debu di lantai. Aku ingin botak saja kalau sudah begini.

 

...

 

Lalu akhir-akhir ini, aku sering mendengar kecipak air di kamar mandi kontrakan. Aku tinggal di kontrakan sepetak dengan kamar mandi luar yang di gunakan bersama. Dari sederet kamar kontrakan, letak kamarku paling ujung belakang persis sebelah kamar mandi. Ada beberapa keuntungan berada dekat kamar mandi, pertama kita tidak perlu jauh-jauh berjalan jika kebelet buang hajat lalu kedua, aku selalu dapat giliran pertama ketika mandi pagi. Walau kadang masih ada penghuni kontrakan yang bangun lebih pagi. Namun intinya aku tidak bakal dapat urutan paling belakang jika mengantri untuk mandi.

 

Beberapa hari ini aku sering terbangun di tengah malam karena suara kecipak air. Seperti suara langkah kaki yang berjalan di genangan. Tiap pagi juga aku menyadari jika rambutku mungkin berjatuhan ketika mandi dan menyumbat penutup saluran air. Aku selalu membersihkannya dulu sebelum mandi. Mungkin itu lah penyebab kenapa kamar mandi selalu tergenang air. Juga, aku adalah orang yang mandi paling malam dari seluruh penghuni kontrakan di sini. Jadi sudah pasti itu rambutku. Tapi pertanyaannya adalah, kenapa pasti setiap jam 2 pagi selalu ada kecipak air. Selalu jam 2.

 

Awalnya aku hanya berfikir jika mungkin tetanggaku yang kebelet hajat malam-malam. Atau bisa juga mengambil wudhu untuk solat tahajud. Namun kenapa orang-orang itu sama sekali tidak mau membersihkan penutup saluran airnya. Kalau ia tahu lantainya tergenang. Aku tidak mau ambil pusing dan berusaha mengabaikan hal itu. Karena tinggal di kontrakan berderet dengan kamar mandi bersama, itu berarti kita harus banyak bertoleransi terhadap kepentingan banyak orang masing-masing. Aku hanya merasa terganggu saja, karena harus terbangun setiap jam 2 pagi, padahal aku baru tidur 3 jam yang lalu.

Rasa lelah yang bercampur kantuk akhirnya membuatku merasa harus menegur orang ini. Karena sudah hampir seminggu kubiarkan. Kenapa sih dia tidak mau membersihkan sumbatan lantainya dulu, baru dia menuntaskan urusannya di kamar mandi. Aku mengintip lewat kaca jendela. Kontrakan kami letter L dengan posisi kamar kontrakan menghadap utara, sedangkan kamar-kamar mandi menghadap ke arah barat.

 

Jadi saat aku mengintip jendela dan melihat seseorang menunggu di depan pintu kamar mandi yang tertutup, aku cuma bisa liat punggungnya saja. Tinggi besar, rambutnya gondrong sepunggung, awut-awutan. Seluruh tubuhnya berbulu seperti gorila, tangannya terbuka menampakan kuku-kukunya yang panjang. Mahluk itu hampir menoleh ketika aku memutuskan berhenti mengintip. Aku kembali tidur sambil membungkus diri dengan selimut

 

Kejadian malam tadi telah kucoba untuk melupakannya. Aku sudah tahu jika sudah sepantasnya ada hal begituan di kontrakan berderet, itu sudah lumrah.

 

...

 

Aku semakin muak dengan helaian rambut yang makin hari makin banyak ketika ku sapu, jadi aku membotaki kepalaku hari ini. Dengan botaknya rambutku, tidak bakal ada lagi kamar mandi yang menggenang dan tidak bakal ada lagi suara kecipak malam hari.

 

Pukul 2 pagi ketika kulirik jam dinding, suara kecipak lagi. Aku sudah tidak kuat, lelah bercampur kesal. Aku berlari membuka pintu dan melihat kamar mandi terbuka. Suara kecipak itu berhenti. Aku masuk ke kamar mandi, penutup saluran tersumbat lagi oleh gumpalan rambut. Seseorang menggeram di belakangku. Tapi ketika aku menoleh, tidak ada siapapun. Di gerbang masuk kontrakan yang amat jauh, aku bisa melihat seseorang hitam tinggi dengan gigi gading yang mencuat di atas dan bawah bibirnya. Matanya merah lalu sesaat sebelum aku memutuskan untuk berlari ke kamar, mahluk itu lenyap. Bulu kudukku masih merinding ketika aku menutup pintu kamar dan bersedekap di belakang pintu.

 

Aku memperhatikan lantai yang kembali kotor oleh helaian rambut. Bukankah kepalaku sudah botak. Helaian itu semakin banyak dan ketika aku mengikuti kemana asalnya, aku sampai di depan lemariku. Aku membuka pintu lemari perlahan. Sesuatu menggeram tepat di atasku, aku mendongak –dia di situ sedang duduk mengayun-ayunkan kaki dan lidahnya yang menjuntai keluar dari sela-sela gigi gadingnya.

 

Aku rasa tidak perlu lagi mempermasalahkan kecipakan air di malam hari.

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.