Terkadang aku merasa sudah sangat tua, padahal umurku baru
mendekati kepala 3. Aku bisa merasa seperti itu karena setiap hari kurasa
rambutku kian menipis. Tiap kali aku menyapu lantai aku selalu menemukan bahwa
helaian rambutku yang jatuh malah lebih banyak dari debu-debu di lantai. Aku
ingin botak saja kalau sudah begini.
...
Lalu akhir-akhir ini, aku sering mendengar kecipak air di
kamar mandi kontrakan. Aku tinggal di kontrakan sepetak dengan kamar mandi luar
yang di gunakan bersama. Dari sederet kamar kontrakan, letak kamarku paling
ujung belakang persis sebelah kamar mandi. Ada beberapa keuntungan berada dekat
kamar mandi, pertama kita tidak perlu jauh-jauh berjalan jika kebelet buang
hajat lalu kedua, aku selalu dapat giliran pertama ketika mandi pagi. Walau
kadang masih ada penghuni kontrakan yang bangun lebih pagi. Namun intinya aku
tidak bakal dapat urutan paling belakang jika mengantri untuk mandi.
Beberapa hari ini aku sering terbangun di tengah malam
karena suara kecipak air. Seperti suara langkah kaki yang berjalan di genangan.
Tiap pagi juga aku menyadari jika rambutku mungkin berjatuhan ketika mandi dan
menyumbat penutup saluran air. Aku selalu membersihkannya dulu sebelum mandi.
Mungkin itu lah penyebab kenapa kamar mandi selalu tergenang air. Juga, aku
adalah orang yang mandi paling malam dari seluruh penghuni kontrakan di sini.
Jadi sudah pasti itu rambutku. Tapi pertanyaannya adalah, kenapa pasti setiap jam
2 pagi selalu ada kecipak air. Selalu jam 2.
Awalnya aku hanya berfikir jika mungkin tetanggaku yang
kebelet hajat malam-malam. Atau bisa juga mengambil wudhu untuk solat tahajud.
Namun kenapa orang-orang itu sama sekali tidak mau membersihkan penutup saluran
airnya. Kalau ia tahu lantainya tergenang. Aku tidak mau ambil pusing dan
berusaha mengabaikan hal itu. Karena tinggal di kontrakan berderet dengan kamar
mandi bersama, itu berarti kita harus banyak bertoleransi terhadap kepentingan
banyak orang masing-masing. Aku hanya merasa terganggu saja, karena harus
terbangun setiap jam 2 pagi, padahal aku baru tidur 3 jam yang lalu.
Jadi saat aku mengintip jendela dan melihat seseorang
menunggu di depan pintu kamar mandi yang tertutup, aku cuma bisa liat
punggungnya saja. Tinggi besar, rambutnya gondrong sepunggung, awut-awutan.
Seluruh tubuhnya berbulu seperti gorila, tangannya terbuka menampakan
kuku-kukunya yang panjang. Mahluk itu hampir menoleh ketika aku memutuskan
berhenti mengintip. Aku kembali tidur sambil membungkus diri dengan selimut
Kejadian malam tadi telah kucoba untuk melupakannya. Aku
sudah tahu jika sudah sepantasnya ada hal begituan di kontrakan berderet, itu sudah
lumrah.
...
Aku semakin muak dengan helaian rambut yang makin hari makin
banyak ketika ku sapu, jadi aku membotaki kepalaku hari ini. Dengan botaknya
rambutku, tidak bakal ada lagi kamar mandi yang menggenang dan tidak bakal ada
lagi suara kecipak malam hari.
Pukul 2 pagi ketika kulirik jam dinding, suara kecipak lagi.
Aku sudah tidak kuat, lelah bercampur kesal. Aku berlari membuka pintu dan
melihat kamar mandi terbuka. Suara kecipak itu berhenti. Aku masuk ke kamar
mandi, penutup saluran tersumbat lagi oleh gumpalan rambut. Seseorang menggeram
di belakangku. Tapi ketika aku menoleh, tidak ada siapapun. Di gerbang masuk
kontrakan yang amat jauh, aku bisa melihat seseorang hitam tinggi dengan gigi
gading yang mencuat di atas dan bawah bibirnya. Matanya merah lalu sesaat
sebelum aku memutuskan untuk berlari ke kamar, mahluk itu lenyap. Bulu kudukku
masih merinding ketika aku menutup pintu kamar dan bersedekap di belakang
pintu.
Aku memperhatikan lantai yang kembali kotor oleh helaian
rambut. Bukankah kepalaku sudah botak. Helaian itu semakin banyak dan ketika
aku mengikuti kemana asalnya, aku sampai di depan lemariku. Aku membuka pintu
lemari perlahan. Sesuatu menggeram tepat di atasku, aku mendongak –dia di situ
sedang duduk mengayun-ayunkan kaki dan lidahnya yang menjuntai keluar dari
sela-sela gigi gadingnya.
Aku rasa tidak perlu lagi mempermasalahkan kecipakan air di
malam hari.



0 komentar:
Posting Komentar