Dua hari lalu ayahku membawakan sebuah teropong binokular. Katanya
ia beli di pasar loak dengan seperempat harga aslinya. Setelah punya itu, kegiatanku
sepulang sekolah akhir-akhir ini kuhabiskan di depan teropong. Bisa berjam-jam
aku di dekat teropong. Karena kamarku berada di lantai 2, aku bisa memantau
berbagai macam hal dan melihat banyak tempat dari sini.
Walau kebanyakan jam kuhabiskan untuk memandangi Mira di
kamarnya. Salah satu gadis paling cantik di sekolah. Rumahnya bersebrang jalan
dan beda tiga rumah dari sini. Rasanya aku terlalu naif jika bermimpi untuk
memilikinya, namun ia memang gadis tipeku sekali. Rambut hitam sepunggung,
wajah bundar seputih salju dan lesung pipit di kedua pipinya. Sayang, segala
bentuk kesukaanku terhadapnya hanya mentok diupayaku memandanginya lewat
teropong saja.
Jangan salah sangka! Aku tidak pernah meneropong Mira ketika
ia sedang mengganti pakaiannya selepas mandi atau ketika ia sedang bosan dan
menarik laci mejanya –mengambil benda ‘panjang dan bergetar’. Aku bakal
langsung berpaling dan menjauh dari teropong jika sudah begitu.
Aku hanya suka melihat ketika ia sedang menyirami tanaman di
taman depan rumahnya. Aku suka bagaimana ia begitu telaten merawat bebungaan
itu. Bagaimana ia memangkas batang-batang dan daun-daun bunga yang layu, lalu
memberikan pupuk –aku hanya suka. Wajahnya begitu teduh dan rasanya aku ingin
menjadi salah satu bunga itu. Aku juga suka memperhatikannya ketika di sore hari
ia berbaring kursi pantai sembari
membaca buku.
Selain mira aku sering meneropong ke tempat lain, seperti
persimpangan jalan ujung komplek ini yang kira-kira 400 meter dari sini. Setiap
jam 2 siang, selalu ada seorang pria paruh baya berpakaian lusuh dan robek di
beberapa bagian. Dia akan berada di persimpangan itu selama 5 menit dan kemudian
menyebrang lalu berjalan menjauh. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia melakukan
itu, padahal kadang tidak ada kendaraan lewat tapi pria itu tetap tidak menyebrang
sampai jam 2 lewat 5 menit –ia kemudian menyebrang dan pergi. Itu seperti sudah
menjadi ritualnya.
Ada juga seorang anak kecil perempuan yang hampir seharian
bermain ayunan di taman, sekitar 500 meter dari rumahku. Kadang aku
mempertanyakan kemana orang tuanya. Karena anak-anak yang bermain di situ
selalu bersama orang tua atau pengasuhnya. Apakah kedua orang tua si anak
perempuan itu tidak perduli jika anaknya di culik?
Terakhir, baru-baru ini aku memperhatikan seorang gadis yang
baru pindah ke rumah di sebrangku. Tetangga baru kami adalah sepasang
suami-istri yang kira-kira sebaya dengan ibu dan ayah, lalu anak gadisnya aku
yakin sebaya denganku. Aku terkadang memperhatikannya lewat jendela tanpa
menggunakan teropong.
Gadis itu cantik dan kalau di bandingkan, Mira masih tidak
terlalu sempurna daripada dia. Gadis itu punya mata biru indah, rambut bob
hitam mirip Minami Hamabe dan lekuk pinggul yang bagus. Aku bisa mengetahuinya
karena pernah tidak sengaja aku menggunakan teropong dan melihat melalui
jendela tepat saat ia hendak masuk kamar mandi. Kulitnya seputih pualam, tanpa
ada bercak atau bekas goresan apapun. Aku tidak sempat melihat buah dadanya
karena ia sudah membelakangi teropong ketika aku tak sengaja memantau kamarnya.
Aku tidak pernah menemuinya secara langsung. Aku pikir dia
bersekolah di tempatku tapi ternyata tidak. Saat aku lewat depan rumahnya, aku
jarang sekali melihatnya. Aku selalu berpapasan dengan ibu dan ayahnya ketika
pagi berangkat sekolah. Namun aku tidak pernah melihat dia pergi sekolah.
Apakah dia homeschooling?. Tetangga
baru kami pernah main ke rumah untuk makan bersama sebagai perkenalan. Tapi
saat itu aku sedang ada kegiatan di luar, jadi tidak sempat melihat gadis itu
datang ke rumah. Aku bertanya pada ibu dan ayah, namun mereka berkata jika anak
gadis itu tidak datang saat makan-makan itu.
Siang ini aku penasaran, aku menunggu gadis itu membuka
jendelanya. Tapi tidak kunjung terjadi, lalu pintu depan rumahnya terbuka
–gadis itu keluar mengenakan dress putih selutut, ia berlari ke arah
persimpangan jalan. Aku bergegas menuruni tangga, keluar rumah dan
membuntutinya. Aku hanya ingin berkenalan dengan dia. Baru kali ini aku
merasakan keberanian yang begitu bergejolak. Ketika aku berhasil sampai ke
persimpangan, tiba-tiba gadis itu hilang entah lari kemana.
Namun seorang pria berdiri di samping lampu merah
penyebrangan, tidak tampak jelas wajahnya. Tapi aku tahu dia, lelaki paruh baya
yang selalu berdiri di persimpangan selama 5 menit. Lelaki itu menoleh, yang
pertama kutahu adalah dia sudah tidak hidup. Mata kirinya menggantung di
samping bibir yang sudah hancur sementara lubang di kanan matanya menganga,
hidungnya pun sudah tidak lagi di sana –hanya dua lubang kecil tertutupi
pretelan kulit. Gigi-giginya jelas tidak tertutup bibir, menganga dan pria
paruh baya itu berusaha bicara padaku sambil melambaikan tangan. Aku terduduk,
kakiku terkunci dan hampir tidak bisa berkata apapun. Jantungku berdegub
kencang, mataku terpaku lalu seseorang memanggilku dari kejauhan.
Menyadarkanku, gadis itu berlari ke arah rumahnya sambil melambai. Aku terlepas
dari sihir ketakutan dan berlari mengejar gadis itu.
Tapi dia bukan berlari ke arah rumahnya melainkan ke taman
bermain anak-anak. Ketika aku sampai, gadis itu kembali hilang. Di sana ramai,
banyak anak-anak bersama ibu atau pengasuhnya. Aku ingat ada satu anak
perempuan kecil yang selalu bermain ayunan di sini. Tapi ketika aku mencari-cari
di mana ayunannya, aku malah menemukan tidak ada mainan ayunan sama sekali di
sini. Apakah itu berarti gadis kecil itu juga. Tiba-tiba saja pundakku terasa
begitu berat lalu ketika aku mendongak, wajah pucat anak kecil dengan leher patah
tepat di mukaku. Aku berjongkok dan menundukan kepalaku sampai seorang ibu
memegang bahuku “kamu tidak apa-apa?”. Gadis kecil itu tidak tampak lagi.
Setelah serentet kejadian menakutkan itu, malamnya tetangga
baru kami datang untuk makan malam bersama. Sepasang suami-istri itu lagi-lagi
tidak mengajak anak mereka. Karena penasaran, aku ikut makan malam ini. Ketika
di tengah percakapan mereka, aku menyela “tante, aku sering melihat anak
gadismu keluar rumah. Tapi kenapa dia tidak ikut?” tepat setelah pertanyaanku,
tante itu berhenti dan merenung. Ia menutupi wajahnya dan mulai terisak. Ayah
memelototiku, menyuruhku makan di kamar. Aku yang tidak tahu apa-apa justru
malah jengkel, kenapa aku yang kena imbasnya. Apa salahku menanyakan anak gadis
seseorang di depan orang tuanya. Bukankah itu jantan.
Nafsu makanku hilang, aku bergegas menyalakan komputer dan
terlintas di benakku untuk mencari tahu tentang pria paruh baya di persimpangan
dan gadis kecil di taman. Ternyata sekitar dua tahun lalu terjadi tabrak lari
di persimpangan itu, korbannya adalah seorang pria paruh baya –tubuhnya
terpental dan wajahnya menghantam aspal jalan. Kemudian sekitar setahun lalu di
taman itu terjadi penculikan seorang gadis kecil yang dicabuli dan kemudian
dibunuh lalu mayatnya dikubur di bawah ayunan. Itu kenapa ayunannya tidak ada
di taman, karena sudah dibongkar.
Aku mendengar derap langkah ayah ke sini, aku segera
mematikan komputer. Dia membuka pintu, bersedekap tangan “apa kau tahu yang
baru saja kau lakukan?”.
Tentu saja aku menggeleng “aku sungguh tidak bermaksud
apa-apa. Aku benar-benar hanya ingin bertemu anak gadisnya karena kami jarang
berpapasan, aku cuma bisa melihatnya sesekali dari jendela”
“Cukup dengan pertanyaan dan pernyataan gak masuk akal ini.
Kau tahu, karena pertanyaanmu –dia harus kembali mengingat kenangan anaknya
yang sudah lama meninggal” ayah berpaling menutup pintu, berlalu.
Malam, ketika kulirik jam menunjukan pukul 2 pagi –entah
kenapa aku merasa ingin meraih teropong dan berjalan ke arah jendela. Di sana, di
halaman rumah tetanggaku yang baru –si pria paruh baya dengan wajah hancur,
gadis kecil berleher patah dan anak gadis tetangga baruku yang wajahnya pucat
pasi melambai-lambai padaku. Ketika aku menyingkirkan teropongku, tidak terlihat
apa-apa di sana. Ketika kugunakan teropong, mereka kini berbaris di depan
halamanku, lalu kusingkirkan. Kuteropong lagi dan mereka kini di depan serambi
rumahku sambil mendongak padaku dan melambai, kulempar teropong itu ke pojok
kamar.
Apakah ini karma karena aku sering meneropong hal yang tak
harusnya kulihat. Karena pada awalnya aku memang sudah mengetahui jika teropong
ini ajaib, aku bisa melihat arwah Mira yang berseliweran di rumahnya melakukan
kegiatan sehari-harinya ketika ia hidup dulu. Sampai akhirnya ia meninggal beberapa
tahun lalu, karena leukimia. Aku sangat menyukainya sehingga tidak bisa lepas
dari bayangannya. Kugunakan teropong ini sebagai pelampiasanku atas kerinduanku
pada Mira.
“JADI KENAPA DIBUANG TEROPONGNYA?” suara seorang perempuan
yang sangat lirih di sambut ketawa anak kecil.



0 komentar:
Posting Komentar