Jumat, 17 Mei 2024

Teropong

 

Dua hari lalu ayahku membawakan sebuah teropong binokular. Katanya ia beli di pasar loak dengan seperempat harga aslinya. Setelah punya itu, kegiatanku sepulang sekolah akhir-akhir ini kuhabiskan di depan teropong. Bisa berjam-jam aku di dekat teropong. Karena kamarku berada di lantai 2, aku bisa memantau berbagai macam hal dan melihat banyak tempat dari sini.

Walau kebanyakan jam kuhabiskan untuk memandangi Mira di kamarnya. Salah satu gadis paling cantik di sekolah. Rumahnya bersebrang jalan dan beda tiga rumah dari sini. Rasanya aku terlalu naif jika bermimpi untuk memilikinya, namun ia memang gadis tipeku sekali. Rambut hitam sepunggung, wajah bundar seputih salju dan lesung pipit di kedua pipinya. Sayang, segala bentuk kesukaanku terhadapnya hanya mentok diupayaku memandanginya lewat teropong saja.

Jangan salah sangka! Aku tidak pernah meneropong Mira ketika ia sedang mengganti pakaiannya selepas mandi atau ketika ia sedang bosan dan menarik laci mejanya –mengambil benda ‘panjang dan bergetar’. Aku bakal langsung berpaling dan menjauh dari teropong jika sudah begitu.
 
Aku hanya suka melihat ketika ia sedang menyirami tanaman di taman depan rumahnya. Aku suka bagaimana ia begitu telaten merawat bebungaan itu. Bagaimana ia memangkas batang-batang dan daun-daun bunga yang layu, lalu memberikan pupuk –aku hanya suka. Wajahnya begitu teduh dan rasanya aku ingin menjadi salah satu bunga itu. Aku juga suka memperhatikannya ketika di sore hari ia berbaring  kursi pantai sembari membaca buku.
 
Selain mira aku sering meneropong ke tempat lain, seperti persimpangan jalan ujung komplek ini yang kira-kira 400 meter dari sini. Setiap jam 2 siang, selalu ada seorang pria paruh baya berpakaian lusuh dan robek di beberapa bagian. Dia akan berada di persimpangan itu selama 5 menit dan kemudian menyebrang lalu berjalan menjauh. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia melakukan itu, padahal kadang tidak ada kendaraan lewat tapi pria itu tetap tidak menyebrang sampai jam 2 lewat 5 menit –ia kemudian menyebrang dan pergi. Itu seperti sudah menjadi ritualnya.
 
Ada juga seorang anak kecil perempuan yang hampir seharian bermain ayunan di taman, sekitar 500 meter dari rumahku. Kadang aku mempertanyakan kemana orang tuanya. Karena anak-anak yang bermain di situ selalu bersama orang tua atau pengasuhnya. Apakah kedua orang tua si anak perempuan itu tidak perduli jika anaknya di culik?
 
 
Terakhir, baru-baru ini aku memperhatikan seorang gadis yang baru pindah ke rumah di sebrangku. Tetangga baru kami adalah sepasang suami-istri yang kira-kira sebaya dengan ibu dan ayah, lalu anak gadisnya aku yakin sebaya denganku. Aku terkadang memperhatikannya lewat jendela tanpa menggunakan teropong.
 
Gadis itu cantik dan kalau di bandingkan, Mira masih tidak terlalu sempurna daripada dia. Gadis itu punya mata biru indah, rambut bob hitam mirip Minami Hamabe dan lekuk pinggul yang bagus. Aku bisa mengetahuinya karena pernah tidak sengaja aku menggunakan teropong dan melihat melalui jendela tepat saat ia hendak masuk kamar mandi. Kulitnya seputih pualam, tanpa ada bercak atau bekas goresan apapun. Aku tidak sempat melihat buah dadanya karena ia sudah membelakangi teropong ketika aku tak sengaja memantau kamarnya.
 
Aku tidak pernah menemuinya secara langsung. Aku pikir dia bersekolah di tempatku tapi ternyata tidak. Saat aku lewat depan rumahnya, aku jarang sekali melihatnya. Aku selalu berpapasan dengan ibu dan ayahnya ketika pagi berangkat sekolah. Namun aku tidak pernah melihat dia pergi sekolah. Apakah dia homeschooling?. Tetangga baru kami pernah main ke rumah untuk makan bersama sebagai perkenalan. Tapi saat itu aku sedang ada kegiatan di luar, jadi tidak sempat melihat gadis itu datang ke rumah. Aku bertanya pada ibu dan ayah, namun mereka berkata jika anak gadis itu tidak datang saat makan-makan itu.
 
Siang ini aku penasaran, aku menunggu gadis itu membuka jendelanya. Tapi tidak kunjung terjadi, lalu pintu depan rumahnya terbuka –gadis itu keluar mengenakan dress putih selutut, ia berlari ke arah persimpangan jalan. Aku bergegas menuruni tangga, keluar rumah dan membuntutinya. Aku hanya ingin berkenalan dengan dia. Baru kali ini aku merasakan keberanian yang begitu bergejolak. Ketika aku berhasil sampai ke persimpangan, tiba-tiba gadis itu hilang entah lari kemana.
 
Namun seorang pria berdiri di samping lampu merah penyebrangan, tidak tampak jelas wajahnya. Tapi aku tahu dia, lelaki paruh baya yang selalu berdiri di persimpangan selama 5 menit. Lelaki itu menoleh, yang pertama kutahu adalah dia sudah tidak hidup. Mata kirinya menggantung di samping bibir yang sudah hancur sementara lubang di kanan matanya menganga, hidungnya pun sudah tidak lagi di sana –hanya dua lubang kecil tertutupi pretelan kulit. Gigi-giginya jelas tidak tertutup bibir, menganga dan pria paruh baya itu berusaha bicara padaku sambil melambaikan tangan. Aku terduduk, kakiku terkunci dan hampir tidak bisa berkata apapun. Jantungku berdegub kencang, mataku terpaku lalu seseorang memanggilku dari kejauhan. Menyadarkanku, gadis itu berlari ke arah rumahnya sambil melambai. Aku terlepas dari sihir ketakutan dan berlari mengejar gadis itu.
 
Tapi dia bukan berlari ke arah rumahnya melainkan ke taman bermain anak-anak. Ketika aku sampai, gadis itu kembali hilang. Di sana ramai, banyak anak-anak bersama ibu atau pengasuhnya. Aku ingat ada satu anak perempuan kecil yang selalu bermain ayunan di sini. Tapi ketika aku mencari-cari di mana ayunannya, aku malah menemukan tidak ada mainan ayunan sama sekali di sini. Apakah itu berarti gadis kecil itu juga. Tiba-tiba saja pundakku terasa begitu berat lalu ketika aku mendongak, wajah pucat anak kecil dengan leher patah tepat di mukaku. Aku berjongkok dan menundukan kepalaku sampai seorang ibu memegang bahuku “kamu tidak apa-apa?”. Gadis kecil itu tidak tampak lagi.
 
Setelah serentet kejadian menakutkan itu, malamnya tetangga baru kami datang untuk makan malam bersama. Sepasang suami-istri itu lagi-lagi tidak mengajak anak mereka. Karena penasaran, aku ikut makan malam ini. Ketika di tengah percakapan mereka, aku menyela “tante, aku sering melihat anak gadismu keluar rumah. Tapi kenapa dia tidak ikut?” tepat setelah pertanyaanku, tante itu berhenti dan merenung. Ia menutupi wajahnya dan mulai terisak. Ayah memelototiku, menyuruhku makan di kamar. Aku yang tidak tahu apa-apa justru malah jengkel, kenapa aku yang kena imbasnya. Apa salahku menanyakan anak gadis seseorang di depan orang tuanya. Bukankah itu jantan.
 
Nafsu makanku hilang, aku bergegas menyalakan komputer dan terlintas di benakku untuk mencari tahu tentang pria paruh baya di persimpangan dan gadis kecil di taman. Ternyata sekitar dua tahun lalu terjadi tabrak lari di persimpangan itu, korbannya adalah seorang pria paruh baya –tubuhnya terpental dan wajahnya menghantam aspal jalan. Kemudian sekitar setahun lalu di taman itu terjadi penculikan seorang gadis kecil yang dicabuli dan kemudian dibunuh lalu mayatnya dikubur di bawah ayunan. Itu kenapa ayunannya tidak ada di taman, karena sudah dibongkar.
 
Aku mendengar derap langkah ayah ke sini, aku segera mematikan komputer. Dia membuka pintu, bersedekap tangan “apa kau tahu yang baru saja kau lakukan?”.
 
Tentu saja aku menggeleng “aku sungguh tidak bermaksud apa-apa. Aku benar-benar hanya ingin bertemu anak gadisnya karena kami jarang berpapasan, aku cuma bisa melihatnya sesekali dari jendela”
 
“Cukup dengan pertanyaan dan pernyataan gak masuk akal ini. Kau tahu, karena pertanyaanmu –dia harus kembali mengingat kenangan anaknya yang sudah lama meninggal” ayah berpaling menutup pintu, berlalu.
 
Malam, ketika kulirik jam menunjukan pukul 2 pagi –entah kenapa aku merasa ingin meraih teropong dan berjalan ke arah jendela. Di sana, di halaman rumah tetanggaku yang baru –si pria paruh baya dengan wajah hancur, gadis kecil berleher patah dan anak gadis tetangga baruku yang wajahnya pucat pasi melambai-lambai padaku. Ketika aku menyingkirkan teropongku, tidak terlihat apa-apa di sana. Ketika kugunakan teropong, mereka kini berbaris di depan halamanku, lalu kusingkirkan. Kuteropong lagi dan mereka kini di depan serambi rumahku sambil mendongak padaku dan melambai, kulempar teropong itu ke pojok kamar. 
 
Apakah ini karma karena aku sering meneropong hal yang tak harusnya kulihat. Karena pada awalnya aku memang sudah mengetahui jika teropong ini ajaib, aku bisa melihat arwah Mira yang berseliweran di rumahnya melakukan kegiatan sehari-harinya ketika ia hidup dulu. Sampai akhirnya ia meninggal beberapa tahun lalu, karena leukimia. Aku sangat menyukainya sehingga tidak bisa lepas dari bayangannya. Kugunakan teropong ini sebagai pelampiasanku atas kerinduanku pada Mira.
 
“JADI KENAPA DIBUANG TEROPONGNYA?” suara seorang perempuan yang sangat lirih di sambut ketawa anak kecil.

 

Aldy Verdiana

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.